

KUNINGAN – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan bergerak cepat merespons teror serangan anjing liar yang menghantui para peternak di Kecamatan Cilebak.
Berdasarkan data terbaru per Kamis (15/1/2026), tercatat sebanyak 44 ekor domba milik warga di dua desa menjadi korban keganasan hewan liar tersebut.
- Klarifikasi Sanksi RS Permata, DLH Kuningan: Uang Masuk Negara
- Perjuangan Tanpa Henti Tim Gabungan Padamkan Karhutla Kuningan, Melawan Angin dan Bara di Lereng Ciremai
- Bantah Tak Hormati DPRD, Wabup Kuningan Sebut Kepala SKPD Absen Paripurna karena Kawal “Bupati Saba Lembur”
- Solusi Karir ke Jepang: PT Obos Ryoushin Indonesia Hadir di Kuningan Tawarkan Program Terintegrasi
- Kebakaran di Kawasan Gunung Ciremai Meluas, Tim Gabungan Bertahan Hingga Malam Ini
Serangan yang berlangsung sejak Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1) ini menyebabkan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp 90 juta.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, DR. A. Taufik Rohman, melalui Kepala Bidang Peternakan, drh. Rofiq, menjelaskan pihaknya telah menerjunkan tim khusus melalui program GAS ELPIJI (Gerakan Anjang Sono Edukasi Lapangan Perikanan Peternakan Jaring Informasi) ke lokasi kejadian.
“Kami sudah melakukan monitoring langsung hari ini ke Desa Cilebak dan Desa Bungurberes. Tim medis dari UPTD Puskeswan Subang juga langsung melakukan pengobatan intensif terhadap 10 ekor domba yang masih hidup namun terluka akibat gigitan,” ujar Rofiq saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Rofiq memaparkan data rinci dampak serangan tersebut. Di Desa Cilebak, lima peternak terdampak dengan total 11 ekor domba dilaporkan mati seluruhnya. Sementara kondisi lebih parah terjadi di Desa Bungurberes, di mana enam peternak kehilangan 23 ekor dombanya yang mati, sedangkan 10 ekor lainnya kini dalam perawatan medis.
“Total ada 44 ekor yang diserang. Mayoritas mati di tempat atau harus disembelih paksa karena luka parah. Bangkai ternak sudah dikuburkan sesuai prosedur sanitasi untuk mencegah penyebaran penyakit,” jelasnya.
Untuk mencegah serangan susulan, Diskanak bersama unsur Muspika (Camat, Kapolsek, dan Danramil) serta pemerintah desa telah menyepakati beberapa langkah taktis. Selain pengobatan ternak yang selamat, masyarakat juga dimobilisasi untuk melakukan perburuan terhadap kawanan anjing liar tersebut.


”Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperketat pengamanan kandang, terutama di malam hari. Koordinasi akan terus kami lakukan agar teror ini tidak berlanjut dan masyarakat bisa kembali tenang,” ungkap Rofiq. (Nars)



