KUNINGAN – Di tengah pesatnya arus informasi, ancaman kejahatan siber seperti doxing, penipuan (scam), hingga manipulasi deepfake semakin nyata. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Pelatihan Literasi Digital di Kedai Kopi Hawwu, Jumat (5/12/2025).


Mengusung tema “Digital Empowerment: Menguatkan Skill, Melindungi Data, Mengasah Budaya dan Etika Online”, kegiatan ini dipadati oleh seratusan mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan di Kabupaten Kuningan.
- Tak Hanya Peduli Gunung, KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning Bersihkan Eceng Gondok Waduk Darma
- Tunjangan DPRD Kuningan Dipangkas demi Efisiensi Anggaran, Sekwan: Tidak Ada Ruang Gelap
- Segini Besaran Tunjangan Perumahan dan Transportasi DPRD Kuningan Berdasarkan Kajian KJPP
- Buka Bukaan Tunjangan DPRD Kuningan, Sekwan Dorong Transparansi di Tengah Tuntutan Efisiensi Fiskal Daerah
- Ujang Kosasih “Bintang Lima” Pimpin PKB Kuningan Lagi, Sekjen Baru Aras Rasdi Usia 35 Tahun
Perwakilan Komdigi, Abdul Jalil Hermawan, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan masyarakat mampu mengambil asas manfaat dari teknologi digital, sekaligus meminimalisir dampak negatifnya.
”Harapannya masyarakat teredukasi. Digitalisasi harus dimanfaatkan untuk hal produktif. Kita harus bisa menghindari aspek negatifnya, mulai dari doxing, scam, hingga deepfake yang kini marak,” ujar Jalil di sela-sela acara.
Jalil juga mengingatkan bahwa saat ini setiap orang bisa menjadi pembuat konten (content creator). Oleh karena itu, etika digital menjadi kunci. Ia mengimbau agar konten yang diproduksi tidak menyinggung SARA atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi (hoaks).
”Masyarakat harus terliterasi. Jika tidak, potensi kerugian akibat distorsi informasi akan sangat besar,” tambahnya.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Kuningan, Sri Laelasari, menyoroti pentingnya perlindungan data pribadi. Menurutnya, antusiasme mahasiswa dan pelaku UMKM yang hadir menunjukkan tingginya kebutuhan akan pemahaman keamanan digital.
”Keamanan digital itu vital. Jangan sembarangan membagikan data pribadi di media sosial karena sangat berbahaya,” tegas Sri.
Legislator perempuan ini berharap kegiatan seperti ini mampu mencetak generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga bijak dalam mengantisipasi risiko dunia maya.
Sementara itu, Pegiat Digital sekaligus narasumber acara, Marino, menjelaskan alasan mahasiswa menjadi target utama pelatihan ini. Menurutnya, mahasiswa adalah agen perubahan yang efektif untuk menyuarakan nilai-nilai positif di ruang digital.
”Mahasiswa adalah generasi penerus. Mereka yang akan menyuarakan nilai positif di media sosial,” kata Marino.
Ia pun berharap pelatihan ini bukan menjadi agenda seremonial belaka. Mengingat pentingnya materi yang disampaikan, Marino mendorong adanya pelatihan lanjutan yang lebih mendalam.
”Harapannya ini continue, tidak berhenti di sini. Karena literasi digital butuh pemahaman yang berkelanjutan,” kata dia. (Nars)














