Bencana Kuningan Lingkungan Viral

Jejak Ekologis Longsor Lembah Cilengkrang Kembali Viral, Tata Ruang Lereng Gunung Ciremai Kembali Disorot

KUNINGAN — Ancaman bencana ekologis dan isu tata ruang di kawasan lereng Gunung Ciremai kembali memantik sorotan. Bekas peristiwa tanah longsor yang merusak bentang alam di sekitar kawasan objek wisata Lembah Cilengkrang, Desa Pajambon, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, belakangan ini kembali viral dan menjadi perbincangan hangat di platform TikTok.

Sorotan ini bermula dari unggahan Hery Heryanto, seorang kreator konten yang kerap mendokumentasikan perjalanan wisata alamnya.

Video yang diunggah sekitar sepekan menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah tersebut merekam secara gamblang kondisi memprihatinkan dari lereng bukit yang gundul hingga memicu pergerakan tanah yang masif.

Dalam narasi visualnya, Hery tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya melihat kerusakan lingkungan yang terjadi di jalur masuk area ekowisata tersebut. Ia menduga kuat ada campur tangan aktivitas manusia yang merusak daya dukung lingkungan, khususnya praktik deforestasi serampangan.

“Sangat sedih melihat lahan yang begitu gundul hingga memicu longsoran sejauh ini. Ini adalah potret nyata dari keserakahan manusia yang menebang pohon asal-asalan. Hutan yang gundul akhirnya memicu longsor,” ungkap Hery dalam video dokumentasinya tersebut.

Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan

Lebih jauh, hasil pengamatan lapangan Hery menemukan setidaknya dua titik longsoran utama yang merusak jalur. Temuan ini memunculkan spekulasi di kalangan warganet mengenai adanya aktivitas pembukaan fasilitas wisata baru di elevasi yang lebih tinggi, yang abai terhadap analisis dampak lingkungan.

Merespons kembali mencuatnya isu kerusakan bentang alam ini, pihak pengelola kawasan konservasi di lereng Ciremai.mewakili Kepala Humas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Ady Sularso, menjelaskan secara pemetaan administratif, titik pergerakan tanah yang terekam dalam video viral tersebut tidak masuk ke dalam batas wilayah konservasi taman nasional.

“Titik longsoran tersebut terjadi di luar kawasan BTNGC,” kata Ady secara terpisah.

Sebagai kilas balik, insiden longsor di kawasan ekowisata Lembah Cilengkrang ini sejatinya merupakan peristiwa yang terjadi pada pertengahan Mei 2025 silam. Saat itu, material longsor berdampak langsung pada terputusnya akses utama jalur wisata.

Kendati bukan peristiwa baru, kembalinya video ini ke beranda publik seolah menjadi peringatan keras atau alarm ekologis bagi para pemangku kebijakan.

Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK

Insiden ini kembali membuka ruang kritik dari para pemerhati lingkungan terkait masifnya alih fungsi lahan, perizinan pembangunan fasilitas di kemiringan lereng yang rawan, serta pentingnya audit lingkungan di seluruh sektor pariwisata Kabupaten Kuningan agar kejadian serupa tidak terus berulang. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement