

THAILAND – Di balik gagahnya sosok Hilman di atas podium tertinggi ASEAN Para Games 2025 Thailand, tersimpan hati yang lembut. Saat lagu Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah Putih perlahan naik, pikiran atlet Para Powerlifting.(angkat berat) asal Kabupaten Kuningan ini melayang jauh ke kampung halaman.


Hari itu menjadi hari bersejarah bagi Hilman. Medali emas yang melingkar di lehernya bukan sekadar simbol kemenangan atas lawan-lawannya di Asia Tenggara, melainkan sebuah bakti seorang anak.
- Kuningan Simpan Segudang Bakat Sepak Bola Putri, Akademi Persib dan Askab PSSI Kuatkan Sinergi Pembinaan
- Semarakkan Malam Kemerdekaan, Sekretariat DPRD Kuningan Antusias Ikuti Pawai Taptu
- Babinsa Luragung dan Warga Cileuya Kompak Sulap Jalan Gang Lebih Asri
- Video Jedag Jedug Anies Baswedan Viral, Netizen Malah Desak Jadi Presiden
- Target Padam Jelang Kemerdekaan, Kapan Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Berakhir?
Hilman berjaya di kelas Men’s 54 Kg pada percobaan angkatan pertama seberat 167 kg. Angka tersebut tak terkejar rival terberatnya asal Vietnam, Binh An Nguyen yang harus puas membawa pulang medali perak.
”Medali ini saya persembahkan untuk Indonesia,” ujar Hilman dengan nada bangga, saat dikonfirmasi Kuningan Religi, Jum’at (23/1/2026).
“Namun, ada sosok spesial yang selalu menjadi inspirasi terbesar saya, yaitu ibu kandung saya,” imbuhnya.
Bagi Hilman, sang ibu adalah motivasi utama yang membuatnya mampu mengangkat beban ratusan kilogram. Doa restu orang tua menjadi kekuatan tak kasat mata yang mendampingi strategi teknis di lapangan.
Perjalanan Hilman menuju emas tidak instan. Lifter yang sebelumnya telah mengharumkan nama daerah dengan emas di Peparnas Solo 2024 dan dua emas di Peparda Bekasi 2022 ini, tampil penuh percaya diri.
Di Thailand, ia memainkan strategi cerdik. Hilman sukses melakukan angkatan pertama dengan mulus. Hal ini, menurutnya, sengaja dilakukan untuk meruntuhkan mental lawan sejak awal laga.
“Saya optimis menang. Itu strategi pelatih agar mental lawan jatuh,” ungkapnya.
Keberhasilan ini juga menjadi kado manis bagi tanah kelahirannya. Hilman tak lupa berterima kasih atas dukungan doa dan materi yang mengalir dari Pemerintah Kabupaten Kuningan serta Pemprov Jawa Barat, melalui organisasi NPCI.
Kini, mata Hilman tak lagi hanya menatap Asia Tenggara. Ia mulai membidik target yang lebih tinggi: tiket menuju Asian Para Games 2026 di Jepang.
Menutup perbincangan, sang juara menitipkan pesan menyentuh bagi rekan-rekan difabel lainnya. Ia ingin prestasinya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang.
“Kuncinya adalah bersosialisasi. Mulailah bergabung dengan komunitas difabel atau Dinas Sosial setempat. Dari sana akan timbul rasa percaya diri dan syukur,” ungkap Hilman, sang pahlawan olahraga dari Kuningan ini. (Nars)



