KUNINGAN – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan kunjungan kerja sekaligus ziarah ke makam bersejarah Radja Jaqub Ponto di Kabupaten Kuningan, Jumat (3/4/2026).
Di sela-sela agendanya, Fadli membuka kembali lembaran kelam sejarah kemerdekaan terkait taktik keji pemerintah kolonial Belanda yang sengaja membuang, menelantarkan, hingga memiskinkan para tokoh pejuang demi memadamkan api perlawanan rakyat.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Menurut Fadli, memisahkan tokoh pergerakan dari basis massanya merupakan strategi klasik penjajah agar perjuangan kemerdekaan terputus dan tidak memiliki penerus. Kebijakan pengasingan ini dialami oleh deretan pahlawan besar dari berbagai penjuru Nusantara.
“Pola Belanda itu selalu membuang dan mengasingkan para pejuang dari wilayahnya. Kalau kita lihat, Tuanku Imam Bonjol dari Sumatera Barat dibuang ke Sulawesi Utara, Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah juga dibuang,” urai Fadli Zon saat memberikan keterangan usai berziarah.
Ia menambahkan, tokoh kharismatik asal Kuningan, Kiai Hasan Maolani, pun tak luput dari kejamnya pengasingan. Sang ulama dibuang jauh ke Tondano, Minahasa, dan dimakamkan berdekatan dengan makam pahlawan nasional Kiai Mojo.
Namun, tak hanya pahlawan lokal yang dikirim ke luar daerah, Kuningan pada masa lampau juga dijadikan sebagai lokasi pembuangan bagi tokoh dari luar wilayah.
Secara khusus, Fadli menyoroti kisah memilukan seorang pejuang bernama Yaqub Konte yang diasingkan ke Kuningan pada tahun 1889.
“Beliau (Radja Jaqub Ponto) akhirnya dibuang ke Kuningan. Selama masa pengasingannya, beliau benar-benar diterlantarkan dan dimiskinkan oleh pihak Belanda hingga akhirnya wafat di sini,” tegas pimpinan Kementerian Kebudayaan tersebut menceritakan kepahitan sang pejuang.
Merespons hal tersebut, pemerintah saat ini tengah berupaya mencari titik lokasi yang tepat untuk mengabadikan jejak perjuangan Yaqub Konte di Kuningan—yang pada era kolonial tersebut administrasinya belum masuk ke dalam wilayah Karesidenan Cirebon.
Lebih jauh, Fadli menegaskan bahwa kunjungannya bukan sekadar agenda seremonial. Merawat makam dan jejak para pahlawan adalah bentuk kewajiban moral generasi penerus bangsa.
“Mudah-mudahan dengan kita berziarah dan merawat makam-makam ini, kita bisa terus mengenang pengorbanan mereka yang menyatukan seluruh wilayah Nusantara menjadi Indonesia. Ini adalah wujud komitmen kita untuk memastikan bahwa para pejuang kita hormati dan kita teladani,” harapnya. (Nars)
























