

KUNINGAN – Di tengah ancaman krisis air saat musim kemarau dan meningkatnya kebutuhan untuk pariwisata, para petani di Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, punya cara jitu untuk menghindari konflik perebutan air.
Warisan leluhur berupa sistem “jadwal gilir” air irigasi terbukti ampuh menjaga kerukunan antar-desa hingga hari ini.
- Buka Konferprov PWI Jabar, Wali Kota Bandung Farhan Minta Jurnalis Dekonstruksi Kerja Jurnalistik di Era Digital
- Api Masih Berkobar di TPSA Ciniru Kuningan, Ancaman Overkapasitas 2027 Jadi Sorotan Utama
- Bupati Kuningan Minta Tindak Tegas Pelaku Jika Kebakaran TPSA Ciniru Terbukti Disengaja
- Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran Hebat di TPSA Ciniru Kuningan
- Sah! PWI Pusat Tetapkan Dua Kandidat Bertarung Rebut Kursi Ketua PWI Jabar 2026-2031
Kepala Desa Sukamukti, Nana Mulyana, mengungkapkan sistem pembagian air irigasi yang bersumber dari Sungai Cilengkrang ini bukanlah aturan baru. Mekanisme ini sudah berjalan secara turun-temurun dan menjadi agenda tahunan saat debit air menyusut.
“Ini sudah ada sejak ratusan tahun, mungkin sebelum merdeka sudah ada secara tradisional. Jadi tertib, tidak ada konflik,” ujar Nana Mulyana.
Nana menjelaskan teknis pembagian air yang biasanya diterapkan pada puncak musim kemarau, yakni bulan Agustus, September, dan Oktober. Tiga desa yang dialiri sungai tersebut harus mematuhi jadwal yang telah disepakati bersama.
”Dibagi jadwalnya: 3 hari jatah untuk Desa Sukamukti, 2 hari untuk Desa Pajambon, dan 2 hari untuk Desa Gandasoli. Semuanya kebagian, entah itu untuk pertanian atau kebutuhan lainnya,” jelas Nana.
Sistem ini bersifat kondisional. Nana mencontohkan, jika terjadi fenomena “kemarau basah” seperti tahun 2024 atau 2025 di mana hujan masih turun, maka jadwal gilir tidak diberlakukan dan air mengalir bebas.
Sementara itu, petani setempat, Dadi (42), mengakui sistem gilir air ini membuat pasokan air ke lahannya menjadi terbatas saat kemarau, yakni hanya mengalir seminggu sekali sesuai jadwal desa.
Namun, alih-alih mengeluh, Dadi dan rekan-rekannya memilih beradaptasi dengan strategi pola tanam cerdas. ”Jadi kita harus mengikuti alam. Kalau bulan Desember sampai Maret kita tanam seledri atau sawi. Nanti masuk bulan 4 sampai 6 tanam buncis atau tomat. Nah, giliran bulan 8 sampai 10 saat air digilir, kita tanam ubi (boled),” papar Dadi.
Menurut Dadi, memaksakan menanam sayuran yang butuh banyak air saat jadwal gilir diberlakukan hanya akan membawa kerugian.
Dengan kombinasi sistem gilir air yang adil dan kepekaan petani membaca cuaca, produktivitas pertanian di kaki Gunung Ciremai ini tetap terjaga meski tantangan kian berat. (Nars)



