Lingkungan Kuningan Pendidikan

‎Seminar Lingkungan Unisa, Mahasiswa dan Akademisi Soroti Potensi Bencana Ekologi Lereng Ciremai

‎‎KUNINGAN – Seminar se-Ciayumajakuning bertema “Hablum Minal Alam di Era Krisis Iklim” yang digelar di Universitas Islam Al Ihya (Unisa) Kuningan, Sabtu (3/1/2026), menyoroti tajam terhadap praktik pengerukan tanah dan penebangan pohon di salah satu kawasan lereng Gunung Ciremai.‎‎

Isu tersebut mencuat saat sesi diskusi interaktif, seorang mahasiswa Unisa, M Hilmi secara terbuka mempertanyakan adanya aktivitas di kawasan milik pribadi yang berada di penyangga hutan Ciremai tersebut.‎‎

“Ada pengerukan tanah dan penebangan. Dari pemantauan kami, ternyata bukan hanya pohon Kaliandra yang ditebang, tapi banyak pohon besar juga ikut ditebang. Apakah jika nanti ditanami lagi dengan jenis pohon lain, itu termasuk reboisasi? Dan jika aktivitas itu memicu bencana, apakah itu termasuk dosa?” tanya Hilmi kritis.‎‎

Merespons keresahan tersebut, Akademisi Kuningan sekaligus narasumber, Pandu Hamzah, menegaskan agar mahasiswa tidak boleh berdiam diri melihat potensi kerusakan lingkungan, baik yang dilakukan individu, swasta, maupun pemerintah.

‎‎”Kawal terus! Bersuaralah dalam berbagai kegiatan, di platform media, atau lakukan dialog langsung. Eksploitasi alam yang merusak ekosistem bisa dilakukan oleh siapapun,” tegas Pandu.

Gadis 21 Tahun Asal Ciawigebang Hilang Usai Dijemput Motor, Ini Ciri-cirinya!

‎‎Pandu juga memberikan pandangan menohok terkait paradoks perilaku pengusaha. Menurutnya, kesalehan pribadi seseorang tidak menjamin kesalehan ekologisnya saat berbisnis.‎‎

“Terkadang pengusaha secara personal terlihat peduli pada lingkungan. Namun, saat bertindak sebagai pemilik perusahaan, ia bisa saja melihat alam semata-mata sebagai potensi keuntungan buat mereka tanpa mempedulikan dampaknya,” tambahnya.‎‎

Sorotan tajam juga datang dari narasumber lainnya, Andini Rahmawati. Ia menanggapi fenomena “pemulihan” lahan yang justru diawali dengan perusakan. Menurut Andini, reboisasi adalah kegiatan mulia, namun caranya tidak boleh sembarangan.‎‎

“Jika dalihnya untuk reboisasi tapi malah membuka dulu lahan (yang sudah hijau), apalagi di kawasan yang tadinya asri, ini patut dipertanyakan,” ujar Andini.‎‎

Aktivis Gema Jabar Hejo Kuningan ini menekankan pentingnya selektivitas dalam pemilihan vegetasi pengganti. Jika tujuannya benar-benar untuk konservasi dan menjaga mata air, tanaman yang dipilih haruslah jenis yang memiliki fungsi ekologis kuat untuk memulihkan ekosistem, bukan sekadar tanaman hias atau komersial.‎‎

Niat Hati Menolong, Sebar Foto KTP Hilang di Medsos Justru Rawan Pencatutan Identitas

“Harus selektif. Jika niatnya merawat dan menjaga kawasan konservasi, pilihlah jenis tanaman yang benar-benar bisa menjaga dan memulihkan kondisi ekosistem,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam seminar tersebut, Pandu Hamzah juga menyoroti isu tata kelola air Gunung Ciremai dan memperkenalkan konsep Hablum Minal Alam (hubungan manusia dengan alam) sebagai landasan spiritual untuk melawan keserakahan eksploitasi sumber daya alam. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement