KUNINGAN – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menegur keras Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Luragungtonggoh setelah muncul laporan adanya brownies berjamur dalam paket makanan program MBG.
Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap program unggulan pemerintah daerah itu.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
“Ini bukan sekadar masalah makanan, tapi masalah tanggung jawab moral dan nama baik program. Jangan pernah menganggap sepele distribusi menu MBG,” tegas Wahyu dalam arahannya kepada jajaran SPPG, Selasa (7/10/2025).
Teguran tersebut disampaikan menyusul laporan warga penerima manfaat di Kecamatan Luragung yang menemukan kue brownies berjamur saat membuka paket MBG pada Jumat (3/10/2025).
Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh Satgas MBG dengan meminta klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara dapur di Luragungtonggoh.Wahyu memerintahkan Kepala SPPG dan Ahli Gizi setempat untuk segera melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh guna mengetahui penyebab munculnya jamur — apakah karena bahan makanan, proses pengolahan, atau keterlambatan distribusi.
“Pastikan penyebab teknisnya diketahui dengan pasti. Lakukan dokumentasi lengkap dan buat laporan tertulis agar bisa menjadi bahan evaluasi Satgas,” ujarnya.
Selain meminta laporan lengkap dari pihak dapur, Wahyu juga menekankan pentingnya pembinaan ulang terhadap seluruh penyedia dapur MBG di Kabupaten Kuningan. Menurutnya, standar keamanan pangan, proses penyimpanan, hingga waktu maksimal konsumsi produk olahan harus dipahami dan diterapkan secara disiplin.
“Mulai sekarang, SPPG wajib memperketat pengawasan harian. Buat checklist kebersihan, waktu produksi, dan distribusi. Jangan sampai ada makanan yang disimpan terlalu lama hingga rusak atau berjamur,” tegasnya lagi.
Wahyu mewanti-wanti, kejadian serupa tidak boleh terulang kembali. Satgas MBG akan mengambil langkah tegas terhadap pihak yang lalai, termasuk pemberian sanksi administratif atau evaluasi dapur penyedia.
“Kita bukan hanya menyalurkan makanan, tapi juga menyalurkan kepercayaan dan kepedulian pemerintah kepada masyarakat. Maka lakukan dengan penuh tanggung jawab dan profesionalitas,” ucap Wahyu.
Ia berharap insiden ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak pelaksana program agar meningkatkan kehati-hatian dan kedisiplinan dalam menjaga kualitas menu MBG.“Mari jadikan ini pelajaran bersama untuk memperkuat sistem pengawasan. Jangan tunggu kejadian lebih besar baru bertindak,” tutupnya. (Nars)
























