Beranda / Pemerintahan / ‎Terkuak! Misteri Kematian Ikan Dewa Cigugur, Ternyata Ini Penyebabnya

‎Terkuak! Misteri Kematian Ikan Dewa Cigugur, Ternyata Ini Penyebabnya

KUNINGAN – Teka-teki di balik kematian massal puluhan Ikan Dewa di objek wisata Balong Girang, Cigugur, akhirnya terpecahkan. Bukan karena faktor mistis atau racun limbah, penyebab kematian ikan langka tersebut ternyata adalah serangan parasit ganas yang memanfaatkan kondisi cuaca ekstrem.‎‎

Fakta mengejutkan ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Perikanan, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Denny Rianto.

Saat dikonfirmasi pada Jumat (30/1/2026) petang, Denny membeberkan hasil investigasi timnya yang menemukan “jejak merah” mematikan pada tubuh ikan-ikan yang mati.‎‎

Denny menjelaskan, dari hasil pemeriksaan visual terhadap bangkai ikan, tim investigasi menemukan gejala klinis yang mengerikan. Ikan-ikan tersebut tidak mati wajar, melainkan mengalami penyiksaan biologis sebelum akhirnya meregang nyawa.‎‎

“Kami menemukan adanya luka berwarna merah atau hemoragi pada permukaan tubuh ikan. Selain itu, insangnya memucat bahkan memutih, dan sisiknya mudah sekali terlepas. Ini tanda infeksi parah,” ungkap Denny.‎‎

Biang kerok dari luka-luka tersebut adalah Cacing Jangkar (Lernaea sp.). Parasit ini ditemukan menempel dan menggerogoti kulit, insang, hingga rongga mulut ikan. Keberadaan parasit inilah yang membuat luka terbuka dan menjadi pintu masuk infeksi sekunder yang mematikan.‎‎

Namun, parasit ini tidak datang tanpa sebab. Denny menyebut bahwa cuaca ekstrem di Kuningan menjadi kondisi yang lebih cepat parasit tersebut menyebar. Berdasarkan pengukuran kualitas air, suhu kolam anjlok hingga 24 derajat Celcius (batas bawah toleransi) dengan pH air yang cenderung asam di angka 6.

‎‎”Suhu dingin dan air asam ini membuat Ikan Dewa mengalami stres berat. Saat stres, daya tahan tubuh atau imun mereka drop. Di situlah cacing jangkar menyerang dengan ganas karena pertahanan tubuh ikan sedang lemah-lemahnya,” paparnya.‎‎

Untuk menghentikan “wabah” ini agar tidak menghabisi seluruh populasi Ikan Dewa di kolam keramat tersebut, Diskanak mengambil langkah darurat namun unik. Mereka tidak menggunakan bahan kimia keras, melainkan ramuan tradisional.

‎‎”Kami sudah menebar tumbukan daun kipait (Tithonia diversifolia) ke dalam kolam. Herbal ini efektif untuk mengurangi iritasi pada kulit ikan yang luka sekaligus menekan populasi parasit tanpa merusak ekosistem,” jelas Denny. (Nars)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *