KUNINGAN – Fenomena kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon di Kabupaten Kuningan memunculkan sebuah tanda tanya besar.
Di satu sisi masyarakat mengeluhkan kekosongan stok yang terjadi sejak 1 pekan sebelum perayaan Idulfitri hingga hari ke-2 Lebaran, namun di sisi lain pihak pemerintah daerah mengklaim telah mendistribusikan puluhan ribu tabung gas melon tambahan ke pasaran.
- Punya Potensi Puluhan Ribu Anggota, Pengurus IKA STEMGA Kuningan Resmi Dilantik di Pendopo
- Akui Fasilitas Sekolah Belum Merata, Bupati Kuningan Sampaikan Pesan Ini di Hardiknas 2026
- Akhirnya Terjawab, Kisruh Dana Taspen PPPK Guru Kuningan Telah Diselesaikan Disdikbud
- Mayday 2026: KSPSI Kuningan Desak Buruh Berani Lapor Praktik Upah di Bawah Standar
- Refleksi Milad Ke-94 Pemuda Muhammadiyah untuk indonesia jaya
Berdasarkan keluhan warga di lapangan, ketiadaan bahan bakar bersubsidi ini sangat menyulitkan pemenuhan kebutuhan dapur harian, terutama bagi mereka yang memiliki agenda menggelar acara hajatan. Seorang warga Kecamatan Kadugede, Deden, sebelumnya menuturkan bahwa dirinya harus berkeliling mencari gas ke berbagai pangkalan dan warung pengecer namun persediaan selalu dinyatakan habis.
Kondisi krisis bahan bakar ini bahkan memaksa sebagian warga untuk merogoh kocek lebih dalam demi membeli makanan siap saji karena aktivitas memasak di rumah lumpuh total.
Menanggapi situasi yang kontradiktif tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, Toni Kusumanto, memberikan penjelasannya. Ia memaparkan bahwa pemerintah daerah berkolaborasi dengan pihak Pertamina sejatinya sudah mengambil langkah antisipasi dengan menyuntikkan pasokan gas tambahan sejak jauh hari sebelum hari raya.
Penambahan stok tersebut dipastikan telah disalurkan mulai dari H-3 hingga H+3 Lebaran.Toni merinci bahwa penyaluran tambahan pasokan dilakukan melalui skema fakultatif dan penyaluran ekstra atau extra dropping.
Pada 19 Maret 2026, kata Toni, sebanyak 45.360 tabung telah didistribusikan. Penyaluran kemudian dilanjutkan pada 20 Maret 2026 dengan total 20.720 tabung yang merupakan gabungan dari skema fakultatif sebanyak 9.520 tabung dan ekstra 11.200 tabung.
Selanjutnya, pada 22 Maret 2026 kembali disalurkan sebanyak 28.000 tabung, serta telah dijadwalkan tambahan 11.200 tabung untuk tanggal 23 Maret 2026.
Mengenai penyebab kelangkaan yang berbanding terbalik dengan gencarnya pasokan tambahan tersebut, Toni menilai kondisi ini dipicu oleh lonjakan tingkat konsumsi masyarakat yang sangat tinggi selama momentum Lebaran.
Ia juga menduga adanya indikasi pembelian berlebih atau penimbunan stok lebih awal oleh sebagian warga, yang mengakibatkan ketersediaan tabung di tingkat agen maupun warung pengecer ludes dalam waktu yang sangat singkat.
























