

KUNINGAN – Kontradiksi tajam menyeruak di balik gemerlap perayaan Idul Fitri 1447 H di Kabupaten Kuningan. Di saat Pemerintah Daerah memamerkan angka pertumbuhan ekonomi yang diklaim paling moncer di kawasan Rebana, para pedagang di pasar tradisional justru merasakan getirnya penurunan daya beli masyarakat.
- Buka Konferprov PWI Jabar, Wali Kota Bandung Farhan Minta Jurnalis Dekonstruksi Kerja Jurnalistik di Era Digital
- Api Masih Berkobar di TPSA Ciniru Kuningan, Ancaman Overkapasitas 2027 Jadi Sorotan Utama
- Bupati Kuningan Minta Tindak Tegas Pelaku Jika Kebakaran TPSA Ciniru Terbukti Disengaja
- Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran Hebat di TPSA Ciniru Kuningan
- Sah! PWI Pusat Tetapkan Dua Kandidat Bertarung Rebut Kursi Ketua PWI Jabar 2026-2031
Pemandangan kontras ini membayangi sambutan Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, saat momentum salat Id di Masjid Syiarul Islam. Dalam arahannya, Bupati bangga menyebut laju ekonomi Kuningan tahun 2025 melesat hingga 6,98 persen, sebuah angka statistik yang menempatkan Kuningan di puncak performa ekonomi Jawa Barat bagian timur.
Namun, di lorong-lorong pasar tradisional, angka 6,98 persen itu seolah tak berbekas. Hal ini dikatakan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Kepuh Kabupaten Kuningan, Andi Akbar.
Menurut Andi, aktivitas perdagangan menjelang Lebaran yang biasanya menjadi “panen raya” bagi pedagang, kini cenderung stagnan bahkan merosot.
Para pedagang mengaku tidak berani menyetok barang dalam jumlah besar karena dihantui kekhawatiran barang tidak laku terjual.”Data makro boleh saja melesat, tapi fakta di pasar rakyat bicara lain. Masyarakat sekarang hanya sanggup membeli kebutuhan pokok seperti beras dan daging. Untuk barang sekunder seperti pakaian, kue kering, atau parsel, penjualannya jauh dari kata meningkat,” ungkapnya, Ahad (22/3/2026).
Ditambahkannya, kondisi ini menjadi indikator kuat bahwa pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah daerah kemungkinan besar hanya berputar di sektor tertentu seperti jasa atau konstruksi, namun belum menyentuh akar rumput di sektor perdagangan rakyat.
“Masyarakat kini terlihat jauh lebih selektif dan memprioritaskan isi perut dibandingkan kebutuhan gaya hidup Lebaran,” kata Andi.
Dampak lesunya perdagangan ini, ujarnya, mulai merembet ke sektor lapangan kerja. Demi menekan biaya operasional yang tak sebanding dengan pemasukan, sejumlah pemilik kios terpaksa merumahkan karyawan mereka. Kini, banyak lapak yang dijaga langsung oleh pemiliknya sebagai langkah efisiensi di tengah ketidakpastian ekonomi.



