Kuningan

Kuningan Bidik Status Pusat Ekonomi Baru Jabar Timur, Siapkan 1.026 Hektare Lahan Industri

banner 468x60

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan tengah melakukan transisi fokus ekonomi yang signifikan. Wilayah yang secara tradisional dikenal sebagai kawasan agraris dan pariwisata di kaki Gunung Ciremai ini, kini mulai mengarahkan haluan menuju industrialisasi sebagai jangkar pertumbuhan ekonomi baru di timur Jawa Barat.

Langkah tersebut dipaparkan oleh Bupati Kuningan, Dian, yang menargetkan perluasan investasi di berbagai lini melalui program “Kuningan Melesat”. Fokus utamanya saat ini mencakup pembukaan kawasan industri, agribisnis terintegrasi, hingga hilirisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

banner 336x280

Proyek paling masif yang tengah ditawarkan kepada investor adalah Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Cimahi di wilayah Kuningan Timur. Berdiri di atas lahan seluas 1.026 hektare, kawasan ini dirancang untuk memanfaatkan celah logistik di wilayah Kunci Bersama.

Secara geografis, KPI Cimahi memiliki jarak tempuh sekitar 35 kilometer dari Bandara Internasional Kertajati dan Pelabuhan Cirebon, serta 15 kilometer dari akses Gerbang Tol Palimanan–Kanci.

Pergeseran menuju kawasan industri ini sebenarnya sudah mulai berjalan. Sejumlah perusahaan skala besar di sektor manufaktur, garmen, dan agroindustri tercatat telah beroperasi secara berkelanjutan di wilayah tersebut, di antaranya adalah PT Zebra Asahi Industries, PT Stitch Joshua Indonesia, dan PT Galih Estetika Indonesia.

Babak Pertama Piala Presiden 2026: Gol Teranulir dan Jual Beli Serangan Warnai Duel Persib vs DPMM FC

Manuver perluasan kawasan industri ini ditopang oleh fundamental ekonomi daerah yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Kuningan, laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2025 tercatat mencapai 6,98 persen dengan angka PDRB per kapita menyentuh Rp33,94 juta.

Meski membuka keran investasi untuk pabrik dan manufaktur berskala besar, pemerintah daerah mengklaim akan tetap menjaga sektor riil yang menjadi tulang punggung lamanya, yakni pertanian dan pariwisata. Di sektor pertanian, produksi kopi robusta mampu menembus 1.173 ton yang berpusat di Kecamatan Darma dan Selajambe, melengkapi 58 ton produksi kopi arabika.

Selain kopi, ubi jalar juga menjadi komoditas penyangga pangan daerah dengan total produksi mencapai 80.462 ton, yang sebagian besar disumbang oleh lahan di Kecamatan Cilimus dan Cigandamekar.

Stabilitas yang sama juga terlihat di sektor pariwisata yang berhasil menarik 3,15 juta kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025. Untuk memperkuat sektor ini, pemerintah daerah membuka peluang investasi pada pengembangan kawasan pemandian air panas di Sangkanurip, Ciniru, Subang, dan Ciangir.

Proyek turunan lain yang turut ditawarkan meliputi pengembangan Kebun Raya Kuningan, optimalisasi Hutan Kota Bungkirit dan Babakanjati, serta pembangunan sarana penginapan di berbagai desa wisata.

Dugaan Masalah Tunjangan, Lima Anggota DPRD Kuningan Diperiksa Maraton oleh Kejari

Sementara di tingkat akar rumput, komersialisasi produk lokal daerah seperti minuman jeruk nipis, tape ketan, bawang goreng, dan batik khas Kuningan terus didorong agar mampu memenuhi standar pasar nasional maupun ekspor. Dalam akhir pemaparannya, Bupati Dian menegaskan bahwa tata ruang dan infrastruktur daerah telah dipersiapkan untuk mendukung iklim penanaman modal yang lebih terbuka bagi pihak luar.

“Kuningan memiliki sumber daya alam yang melimpah, infrastruktur yang terus berkembang, serta komitmen kuat dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kami membuka ruang kolaborasi bagi para investor untuk tumbuh bersama secara berkelanjutan di Kabupaten Kuningan,” ujar Bupati Dian. (Nars)

banner 336x280
× Advertisement
× Advertisement