

PRAMUKA – Peringatan Hari Pramuka yang jatuh pada 14 Agustus 2026 tidak lagi sekadar identik dengan tali-temali, baris-berbaris, maupun kegiatan berkemah di alam terbuka. Pada usianya yang ke-65, Gerakan Kepanduan di Indonesia mulai mengambil langkah progresif dengan menyentuh sektor yang sangat vital bagi keberlangsungan negara, yakni ketahanan pangan nasional.
Orientasi baru ini menjadi angin segar sekaligus pembuktian bahwa praja muda karana selalu tanggap terhadap tantangan zaman dan kebutuhan riil masyarakat luas.
- Dapur Umum BPBD di TPSA Ciniru Kuningan Beroperasi Dukung Logistik Ratusan Personel
- Menjawab Pertanyaan Wisatawan: Gunung Ciremai Dimana? Ini Lokasi dan Pesona Alamnya
- Sambut HUT Ke-81 RI Kodim 0615 Kuningan Gelar Doa Syukur Keselamatan Bangsa
- Tina Wiryawati Dukung Pemprov Jabar Resmi Ambil Alih MTQ 2027
- Memaknai QS Yunus 58 dalam Syukur Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi
Fokus baru pada swasembada pangan ini sangat sejalan dengan realita yang dihadapi oleh masyarakat agraris di berbagai daerah.
Keterlibatan aktif generasi muda dalam menjaga rantai pasok hasil bumi kini dinilai sangat krusial. Kepedulian organisasi kepanduan terhadap isu ini terasa sangat dekat dengan denyut ekonomi kerakyatan.
Gerakan kepanduan kini didorong untuk turun langsung membantu produktivitas dan kelestarian ekosistem para pahlawan pangan lokal tersebut.
Menengok jauh ke belakang, evolusi peran sosial ini sejatinya sangat selaras dengan visi awal pembentukan kepanduan. Sejarah mencatat bahwa embrio pendidikan karakter ini diletakkan oleh Lord Baden Powell di Inggris pada tahun 1907.
Melalui gagasannya yang tertuang dalam buku legendaris Scouting for Boys, gerakan pembinaan mental pemuda ini menjalar cepat ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Nusantara yang kala itu masih berada di bawah pemerintahan kolonial.
Berbagai organisasi kepanduan lokal kemudian bermunculan dan turut menjadi kawah candradimuka bagi para pemuda pejuang pada masa prapemerdekaan.
Tonggak sejarah kepramukaan Indonesia secara resmi baru ditancapkan pada tahun 1961. Pada masa itu, berbagai laskar dan ragam organisasi kepanduan yang terpecah-pecah akhirnya dilebur menjadi satu wadah tunggal bernama Gerakan Pramuka.
Nama Pramuka sendiri terlahir dari pemikiran cemerlang Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang kelak dikukuhkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Beliau mengadaptasi kata poromuko dari bahasa Jawa yang bermakna pasukan terdepan di medan laga. Istilah gagah tersebut kemudian disandingkan dengan akronim Praja Muda Karana yang berarti jiwa muda yang senantiasa gemar berkarya.
Filosofi sebagai pasukan terdepan inilah yang sekarang coba dibangkitkan kembali dalam medan juang yang berbeda. Jika pada masa lampau para pandu berjuang di garis depan untuk merebut kemerdekaan, kini tunas-tunas muda tersebut diharapkan berdiri paling depan dalam menjaga ketahanan pangan bangsa.
Tunas kelapa yang menjadi lambang kebanggaan pun kembali menjadi pengingat filosofis yang kuat. Sebagaimana pohon kelapa yang seluruh bagiannya sarat akan manfaat, setiap anggota Pramuka dituntut untuk terus beradaptasi, mengabarkan realita yang ada, dan memberikan kontribusi nyata demi tercapainya kemandirian pangan Nusantara. (Nars/ dari berbagai sumber)



