

KHAZANAH — Pertengahan Agustus 2026 menjadi momen yang sarat akan makna bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bertepatan dengan datangnya bulan Rabiul Awal 1448 Hijriah, bulan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Momen langka bertemunya dua peringatan besar ini menjadi pembahasan dalam khutbah Jum’at yang disampaikan oleh penceramah sekaligus ulama kharismatik, KH Aman Syamsul Falah, di hadapan Masjid DPRD Kuningan, pada Jum’at (14/8/2026).
- Memaknai QS Yunus 58 dalam Syukur Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi
- Pariwisata Kuningan Siap-siap Makin Maju, PHRI dan Kampus UBHI Jalin Kerjasama
- Kuningan Bangun Sentra Bawang Putih, Kapolda Jabar Pantau Langsung
- Hari Pramuka 2026: Saatnya Gerakan Kepanduan Turun Tangan Jaga Ketahanan Pangan dan Sejarah Panjangnya di Indonesia
- Kebakaran TPSA Ciniru Kuningan Meluas Lima Hektare, Dua Ratus Personel Dikerahkan
Dari atas mimbar, KH Aman Syamsul Falah mengajak umat Islam untuk merenungkan keagungan dua nikmat tersebut sebagai karunia dan rahmat Allah yang luar biasa. Ia menyebut, kemerdekaan bangsa dan kelahiran sang penutup para nabi adalah dua bentuk ‘kemerdekaan’ yang saling bertaut.
“Agustus tahun ini bukan sekadar bulan patriotisme, melainkan juga bulan spiritualitas yang mendalam. Jika 17 Agustus 1945 mengantarkan bangsa kita pada kemerdekaan fisik dari belenggu kolonialisme, maka kelahiran Rasulullah pada 12 Rabiul Awal adalah fajar kemerdekaan hakiki yang membebaskan peradaban manusia dari kejahilan menuju cahaya hidayah,” papar KH Aman Syamsul Falah.
Bergembira atas Rahmat Allah
Lebih lanjut, KH Aman menguraikan, rasa syukur dan kegembiraan menyambut kedua anugerah ini bukanlah sekadar euforia tanpa dasar. Ia menyitir Al-Qur’an Surah Yunus ayat 58, yang secara gamblang memerintahkan hamba-Nya untuk bersukacita atas karunia dan rahmat dari Sang Pencipta.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 58).
Menurut KH Aman, para mufasir menafsirkan ‘rahmat-Nya’ dalam ayat ini salah satunya merujuk pada kehadiran Al-Qur’an dan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Di sisi lain, nikmat hidup di negara yang berdaulat, merdeka, dan damai adalah bagian tak terpisahkan dari ‘karunia Allah’ yang patut dirayakan.
“Ayat ke-58 dari Surah Yunus ini menjadi teguran halus sekaligus panduan bagi kita. Allah menegaskan bahwa kegembiraan atas datangnya rahmat, berupa lahirnya Nabi pembawa kedamaian dan nikmat hidup di bumi Indonesia yang merdeka, nilainya jauh lebih berharga, lebih mulia daripada seluruh harta duniawi yang kita kumpulkan,” tegasnya.
Meneladani Akhlak, Merawat Bangsa
Di penghujung khutbahnya, KH Aman Syamsul Falah menitipkan pesan penting tentang bagaimana seharusnya umat Islam Indonesia mengimplementasikan rasa syukur di pertengahan Agustus ini.
“Mari kita padukan semangat merah putih dengan cahaya akhlak Nabawiyah. Rayakan kemerdekaan ini dengan mempertebal empati, menjaga kerukunan di tengah kebhinekaan, dan memberantas kezaliman. Itulah cara terbaik kita mensyukuri nikmat kemerdekaan sekaligus memuliakan kelahiran Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” ujar KH Aman. (Nars)



