

KUNINGAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki dampak ganda yang strategis bagi masa depan bangsa.
Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Kabupaten Kuningan menyatakan dukungan penuh, meyakini program ini tidak hanya menjadi investasi untuk mencetak generasi emas, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja di tingkat daerah.
- Miniatur Lembur Pakuan KDM Hadir di Kuningan, Warga Jagara Sulap Gerbang Desa dengan Nuansa Tradisional
- Dramatis! Menang Adu Penalti Atas Sindangagung, Garawangi Segel Tiket 8 Besar Bupati Cup 2026
- Geliat Ekonomi Kreatif di Pesona Sunset Sore Taman Desa Jagara Kuningan
- Sensasi Kopi Embun Senja Berwarna Merah Putih Ramaikan Perayaan Kemerdekaan di Glamping Embun Sangga Langit Kuningan
- Sawah Lope Kuningan Manjakan Wisatawan dengan Waterboom Mini, Main Air Sepuasnya Cuma Rp 5 Ribu
Sekretaris DPC HKTI Kabupaten Kuningan, Enda Sukenda, pada Sabtu (27/9/2025), menegaskan bahwa program yang menyasar anak-anak sekolah ini merupakan langkah fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul.
Menurutnya, asupan gizi yang terjamin akan membentuk generasi yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.
“Kami di HKTI Kuningan melihat program ini sebagai dua sisi mata uang yang sama-sama menguntungkan. Di satu sisi, kita berinvestasi pada anak-anak kita untuk menjadi generasi emas. Di sisi lain, program ini secara langsung memberdayakan ekonomi lokal,” ujar Enda.
Lebih lanjut, Enda menjelaskan bahwa kunci utama dari pemberdayaan ekonomi tersebut adalah keterlibatan penuh petani lokal. Kewajiban untuk menyuplai bahan pangan dari hasil pertanian dalam negeri akan menciptakan jaminan pasar yang selama ini sering menjadi kendala bagi para petani.
“Adanya permintaan yang pasti dan berkelanjutan dari program MBG akan memicu semangat petani untuk meningkatkan produksi. Peningkatan skala produksi ini secara otomatis akan membuka lapangan kerja baru, mulai dari tenaga kerja di lahan pertanian, distribusi, hingga pengolahan,” jelasnya.
Efek domino (multiplier effect) inilah yang diyakini dapat menjadi solusi konkret untuk mengurangi angka pengangguran di daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari level paling bawah.
Meski optimistis, HKTI Kuningan juga menyoroti pentingnya eksekusi program yang profesional dan transparan. Enda menekankan agar yayasan atau Satuan Pendidikan Penyelenggara Gizi (SPPG) yang ditunjuk dapat menjalankan amanah dengan cermat untuk menjaga kepercayaan publik.
“Kunci suksesnya ada pada implementasi. Standar kualitas, kebersihan, dan pengawasan ketat harus menjadi prioritas. Koordinasi yang solid antara SPPG dengan petani sebagai mitra penyedia bahan pangan akan memastikan anak-anak kita menerima gizi terbaik,” tegasnya.
HKTI Kuningan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi menyukseskan program MBG, karena manfaatnya diyakini akan dirasakan secara luas, baik dalam peningkatan kualitas SDM maupun kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal. (Nars)



