KUNINGAN – Sebuah terobosan pendidikan digulirkan di Kabupaten Kuningan melalui program sekolah gratis berasrama yang memadukan dua kurikulum unik dari kementerian yang berbeda.
Program rintisan yang menyasar siswa dari jenjang SD hingga SMA ini mengusung konsep “cinta yang mendalam,” hasil perpaduan kurikulum “Deep Learning” dari Kemendikbud dan “Kurikulum Cinta” dari Kementerian Agama.
- Muncul Rumor Lahgun Narkoba, BNN Kabupaten Kuningan Siap Tes Urine Anggota Dewan
- Jurus PNM Cirebon Bikin Ratusan Emak-Emak UMKM Naik Kelas dan Kebal Pinjol Ilegal
- Wakil Bupati Kuningan Dorong Sinergi Pembangunan dan Sukseskan PTSL dalam Konsolidasi APDESI Merah Putih
- Reshuffle Kabinet Prabowo, Wajah Baru dan Yang Kembali
- Punya Sertifikat! Tembakau Kuningan Naik Kelas, Tak Bisa Lagi Diklaim Daerah Lain
Menurut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kuningan, Toto Toharudin, program ini didesain untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi para siswa terpilih. Untuk menunjang konsep tersebut, setiap siswa akan difasilitasi penuh dengan biaya operasional per anak mencapai Rp 48 juta per tahun.
“Biaya per anak itu dalam satu tahun Rp 48 juta per kepala. Itu di luar operasional sekolah, hanya untuk kebutuhan anak seperti makan tiga kali sehari dan snack dua kali,” ujarnya saat pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Kamis (9/10/2025).
Program yang diawali dengan 100 siswa ini menerapkan pola pengasuhan intensif dengan rasio satu wali asrama untuk setiap 10 siswa. Selain itu, setiap siswa juga akan mendapatkan fasilitas satu laptop untuk menunjang pembelajaran mereka.
Saat ini, para siswa sedang menjalani MPLS selama dua minggu yang diisi oleh narasumber dari TNI, Polri, dan tokoh agama untuk membangun ritme belajar yang menyenangkan.
Lebih jauh ia menjelaskan, kegiatan yang saat ini berjalan merupakan rintisan untuk sebuah proyek pembangunan sekolah yang jauh lebih besar dan megah di wilayah Luragung. Proyek besar tersebut kini sedang diperjuangkan untuk masuk dalam agenda Kementerian PU melalui rekomendasi dari Kementerian Sosial pada tahun 2026.
“Rintisan ini sebagai alat kunci bahwa nanti pembangunan yang akan kita gelar di Luragung itu garansinya bisa dilaksanakan,” tegasnya.
Salah satu kendala utama untuk proyek di Luragung adalah akses jalan yang sempit dan tidak bisa dilalui oleh alat berat. Namun, menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kuningan telah memberikan dukungan penuh.
“Pak Bupati sudah bagus, sudah menganggarkan untuk bagaimana jalan itu bisa lebar, bisa dilalui oleh alat-alat berat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dalam program ini, Pemerintah Daerah Kuningan dalam hal ini Dinas Sosial berposisi sebagai penerima manfaat dari program pemerintah pusat.
Setelah pembangunan di Luragung selesai dan para siswa pindah, lokasi sekolah saat ini direncanakan akan menjadi pilot project sekolah unggulan milik pemerintah daerah untuk mengatasi minimnya animo siswa di sekolah tersebut. (Nars)
























