

KUNINGAN – Estafet kepemimpinan DPC PPP Kuningan resmi memasuki babak baru. Mengusung semangat perubahan, susunan pengurus anyar di bawah komando Ali Akbar bersiap menerapkan strategi politik modern untuk merangkul pemilih muda, tanpa meninggalkan identitas dan DNA partai yang mengakar kuat di lingkungan pesantren.
Turunnya Surat Keputusan (SK) dari DPP PPP Pusat pada 26 Mei lalu sekaligus menjadi jawaban atas dinamika politik pasca-Musyawarah Cabang (Muscab) yang digelar 11 April silam. Kepengurusan inti kini dijabat oleh Ali Akbar sebagai Ketua, didampingi Masuri sebagai Sekretaris, dan H. Eman selaku Bendahara.
- Ketua DPRD Kuningan Tuding Eksekutif Sepelekan Revisi RTRW dan Tak Hargai Rakyat
- Kepala Dinas Kompak Absen, Audiensi RTRW Kuningan Dibubarkan: Relawan Lingkungan Ancam Aksi Massa
- Kuningan Simpan Segudang Bakat Sepak Bola Putri, Akademi Persib dan Askab PSSI Kuatkan Sinergi Pembinaan
- Semarakkan Malam Kemerdekaan, Sekretariat DPRD Kuningan Antusias Ikuti Pawai Taptu
- Babinsa Luragung dan Warga Cileuya Kompak Sulap Jalan Gang Lebih Asri
Ketua DPC PPP Kuningan, Ali Akbar, menyampaikan kepengurusannya kini telah solid dan siap tancap gas menyongsong konstelasi politik mendatang. Segala bentuk dinamika selama masa tunggu SK dinilainya sebagai kewajaran dalam proses pendewasaan politik.
“Di saat putusan itu sudah dikeluarkan, kita ini selaku kader partai harus taat terhadap apa yang sudah diputuskan. Kemarin berdinamika, saat ini sudah solid untuk menghadapi tantangan ke depan. Saya pastikan tidak ada faksi-faksi,” ungkapnya saat ditemui di kantor DPC PPP Kuningan, Rabu (24/6).
Sebagai figur yang masih terbilang muda, Ali menyadari betul tantangan lanskap politik saat ini. Pola pikir dan cara pandang generasi milenial menuntut partai berlambang Ka’bah ini untuk berani bertransformasi menjadi lebih adaptif.
“PPP tidak bisa mengandalkan pola lama karena kondisi saat ini kita dihadapkan terhadap tantangan politik modern. Partai ini diwajibkan untuk menyesuaikan diri bagaimana caranya bisa diterima oleh kalangan muda,” ungkapnya lagi.
Meski siap berlari dengan gaya modern, Ali memastikan PPP tidak akan melupakan akar sejarahnya. Strategi penguatan konstituen justru akan dititikberatkan pada penguatan silaturahmi dengan pondok pesantren dan para ulama.
“DNA daripada Partai Persatuan Pembangunan itu pondok pesantren. PPP ini lahir dari rahimnya NU, di mana para pendirinya adalah tokoh-tokoh besar NU. Tidak ada jalan lain, kami akan lebih dekat dengan pesantren,” paparnya.
Lebih lanjut, Ali juga berencana merajut kembali tali historis partai pada masa fusi dengan mengetuk kembali pintu-pintu tokoh dan keluarga besar Masyumi, Perti, hingga PSII. “Saya akan mengetuk kembali kepada saudara-saudara atau teman-teman yang masih mempunyai garis daripada organisasi itu. Mudah-mudahan ketukan kami diterima,” harapnya.
Langkah kepengurusan baru ini juga telah mendapat restu dan dukungan penuh dari para dewan penasihat partai, yang diistilahkan sebagai Majelis. Dukungan moral tersebut datang dari para tokoh senior seperti KH. Abdul Muhit dan KH. Ajib Ma’ali di Majelis Syariah, Dr. Toto di Majelis Pertimbangan, serta Bebeb Jius atau H. Uus Yusuf di jajaran Majelis Pakar.
“Alhamdulillah setelah kami datang dan silaturahmi, beliau-beliau menyambut positif dan begitu banyak memberikan arahan kepada kami agar ke depan partai ini bisa lebih baik lagi,” sebut Ali didampingi sekretarisnya, Masuri. (Nars)



