KUNINGAN – Satu lagi destinasi wisata alam memukau hadir menambah pesona pariwisata di Kabupaten Kuningan. Bernama Curug Sema, objek wisata eksotis ini berlokasi di Desa Gunungmanik, Kecamatan Ciniru.
Berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat kota dengan waktu tempuh satu jam perjalanan, lokasi ini menyajikan ketenangan alam di bawah hamparan lahan pertanian warga.


Objek wisata ini lahir dari inisiatif Kelompok Tani Gandamekar II bersama warga setempat. Asep Alamaya atau yang juga dikenal dengan nama Sarmad Nurmansah selaku perwakilan pengelola menuturkan bahwa kawasan ini masih dalam tahap perintisan.
- Pesona Curug Sema di Gunungmanik, Surga Tersembunyi untuk Pecinta Petualangan di Kuningan
- 5 Kegiatan DKM Al Ashri Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Ada Tabligh Akbar dan Santunan Yatim
- Juventus Nego PSG untuk Permanenkan Randal Kolo Muani
- Gedung Sudah Jadi, Dapat Kendaraan Operasional, KDMP di Kuningan Tancap Gas
- PNM Green Impact: Bukan Sekadar Penghijauan, 200 Pohon Ini Disiapkan Jadi Sumber Manfaat Warga
Dirintis dengan kekompakan yang digerakkan oleh ketua Poktan, pihak pengelola tidak memungut tarif tiket masuk yang mengikat, melainkan hanya menerima donasi seikhlasnya dari pengunjung untuk sekadar membantu biaya perawatan sarana dan kebersihan area wisata.
Menurut Asep, asal-usul nama Curug Sema memiliki kaitan erat dengan kearifan lokal masyarakat. Ada yang menyebutnya berasal dari kata semah yang berarti tamu, sebagai harapan agar tempat ini banyak dikunjungi.
“Ada pula yang mengaitkannya dengan tokoh pewayangan Semar karena dinding tebing di sepanjang air terjun tersusun dari bebatuan yang berwarna hitam pekat. Dan beredarnya legenda seputar cerita pewayangan yang mewarnai lokasi Curug,” ujarnya, saat ditemui Ahad (21/6/2026).
Air terjun setinggi lebih dari 40 meter ini dialiri oleh air jernih dan sangat sejuk yang bersumber langsung dari mata air Gunung Tilu dan bermuara ke aliran Sungai Cimandala.
Untuk mencapai titik lokasi air terjun, dari area parkir kendaraan para pengunjung cukup berjalan kaki selama sekitar lima menit dengan jarak tempuh satu kilometer. Sepanjang perjalanan, mata akan dimanjakan oleh asrinya pemandangan lahan pertanian warga dengan komoditas cabai, kapulaga, dan kopi.
Potensi alam luar biasa dari Curug Sema ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan keterlibatan dan dukungan dari Bumdes setempat, menjadi arena wisata pemacu adrenalin. Komunitas Wisata Tebing Linggasana memilih air terjun ini sebagai salah satu titik untuk aktivitas canyoning dan rappeling.
Nur Imama, selaku perwakilan pihak penyelenggara Wisata Tebing, menjelaskan bahwa kegiatan wisata ekstrem ini dipandu langsung oleh tenaga profesional. Melalui jalur pendaftaran yang dibuka secara daring melalui media sosial, wisata petualangan ini mendapat antusiasme yang sangat tinggi.
Nur Imama menyebutkan bahwa dalam satu kali perjalanan (trip), kuota peserta bisa mencapai 25 hingga 30 orang. Para pelancong yang datang rupanya tidak hanya berasal dari wilayah Kuningan dan Cirebon sekitarnya, tetapi juga berhasil menarik minat wisatawan dari Bandung, Jakarta, bahkan hingga Kalimantan.
Faktor keselamatan dan kenyamanan pengunjung terbukti menjadi prioritas utama. Hal ini diakui oleh Wulan Novita, seorang wisatawan asal Cirebon yang datang bersama dua rekannya.
Sebagai orang yang baru pertama kali mencoba aktivitas rappeling di Curug Sema, Wulan mengaku sangat terkesan. Ia merasa puas dengan pelayanan tim pemandu yang sangat ramah dan memastikan prosedur keamanan berjalan sangat baik.
Pengalaman seru yang dirasakannya tersebut bahkan membuatnya berencana untuk datang kembali ke Kuningan. (Nars)

















