Ekonomi Bisnis Kuningan Pertanian

‎Harga Sayur Anjlok Dihantam Cuaca, Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyelamat Petani Kuningan‎‎

lahan pertanian di kuningan
Petani di Kuningan mengeluhkan harga sayur yang anjlok

KUNINGAN – Anomali cuaca yang terjadi sejak pertengahan tahun 2025 hingga awal tahun 2026 menjadi pukulan telak bagi petani hortikultura di Kabupaten Kuningan. Curah hujan yang tinggi tanpa adanya musim kemarau membuat harga jual sayuran di tingkat petani terjun bebas.

Namun, di tengah situasi sulit ini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul sebagai “dewa penolong” yang menjaga napas ekonomi para petani.

‎‎Salah seorang petani sayuran di Desa Sukamukti, Dadi mengakui bahwa musim tanam kali ini sangat berat dari sisi harga. Ketiadaan musim kemarau membuat seluruh sentra pertanian, baik di dataran tinggi maupun rendah, bisa panen secara bersamaan, memicu banjir stok di pasar.‎‎

“Harga hancur karena cuaca ibaratnya tidak ada kemarau. Tomat yang biasanya bulan-bulan ini bisa Rp 10.000 per kilo, sekarang cuma dihargai Rp 3.000. Dulu sekali panen bisa dapat Rp 80 juta, sekarang dapat Rp 15 juta saja sudah untung,” ungkap Dadi, saat dikonfirmasi beberapa hari lalu di sebuah Saung di lahan pertanian miliknya.‎‎

Meskipun harga komoditas utama seperti cabai dan tomat lesu, Dadi menyebut petani masih bisa tersenyum berkat adanya permintaan rutin dari sejumlah Dapur MBG. Program ini secara signifikan menyerap jenis sayuran pelengkap yang menjadi menu wajib harian.

Survei Poltracking Tempatkan Elektabilitas PKB di Posisi Keempat Nasional, DPC Kuningan Tegaskan Komitmen Layani Masyarakat

‎‎”Alhamdulillah, MBG sangat berpengaruh. Permintaan untuk sayuran seperti buncis, timun, sawi, dan wortel justru meningkat pesat untuk kebutuhan Dapur MBG,” jelasnya.‎‎

Hal ini terbukti, saat program MBG sempat berhenti karena libur anak sekolah, produk pertanian mereka menumpuk di los pasar kurang pembeli.‎‎

Dadi menjelaskan, program ini tidak hanya menjamin pasar, tetapi juga mendongkrak harga jual di tingkat petani untuk komoditas tertentu. “Harganya jadi ikut terangkat, misalnya yang tadinya Rp 1.000 bisa naik jadi Rp 2.000 karena permintaannya tinggi,” tambahnya.

‎‎Uniknya, dampak positif MBG ini menciptakan siklus pasar baru bagi petani. Dadi mencatat bahwa transaksi penjualan sayuran kini sangat bergairah pada hari-hari aktif sekolah.

‎‎”Ramainya itu terasa dari hari Senin sampai Kamis karena katering jalan terus. Kalau sudah masuk Jumat dan Sabtu, pasar kembali sepi karena libur,” tutur petani yang telah 12 tahun bercocok tanam ini.

Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan

‎‎Bagi Dadi dan rekan-rekannya di Desa Sukamukti, keberadaan program pemerintah ini memberikan kepastian pasar yang sangat dibutuhkan di tengah ketidakpastian harga akibat faktor alam. Hal ini pula yang membuatnya tetap optimis mempertahankan profesi sebagai petani di kampung halamannya. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement