KUNINGAN – Kesadaran mendalam bahwa “hutan adalah kehidupan” mendorong Kelompok Tani Hutan (KTH) Sapu Jagat, Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus untuk membangun pusat persemaian mandiri.
Di bawah naungan Paguyuban Silihwangi Majakuning, mereka kini sukses mengembangkan ratusan jenis bibit endemik dan tanaman buah demi menjaga kelestarian ekosistem Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
- Setahun Memimpin di Tengah Fiskal Terseok, Duet Dian-Tuti Sukses Bikin Ekonomi Kuningan Melesat Tertinggi se-Pulau Jawa
- Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner – Jangan Lewatkan!
- Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong
- Pererat Silaturahmi Jelang Ramadan, Koramil 1501 Kuningan Gelar Munggahan Bersama Anggota DPRD
- Ironi Kemegahan Waduk Darma: Wisata Mendunia, Masih Ada Desa “Miskin Ekstrem”
Ketua KTH Sapu Jagat, Jafar, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kepedulian masyarakat pinggir hutan terhadap sumber air dan oksigen. Menurutnya, kerusakan hutan akan berdampak langsung pada warga sekitar, sehingga ketergantungan pada instansi pemerintah saja tidak cukup.
”Bagi abdi (saya), gunung itu kehidupan. Sangat vital, terutama air. Kalau tidak kita jaga dan rawat oleh masyarakat sekitar, apa yang terjadi? Baik buruknya hutan, masyarakat sekitar yang merasakan. Maka kami peduli, hutan adalah kehidupan kami,” ujar Jafar saat ditemui di lokasi persemaian, Desa Setianegara, Sabtu (31/1/2026).

Pusat persemaian yang dikelola KTH Sapu Jagat yang terletak tidak jauh dari kawasan Lsmbosir ini, tidak hanya fokus pada tanaman kayu keras, tetapi juga Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman serbaguna.
Jafar menjelaskan, penanaman MPTS seperti Nangka, Pete, Jengkol, Sirsak, hingga Sawo memiliki tujuan strategis untuk menyediakan pakan bagi satwa liar. Langkah ini diambil sebagai solusi mitigasi konflik antara satwa dan warga. Ketersediaan pakan yang melimpah di dalam kawasan hutan diharapkan dapat mencegah satwa, seperti monyet, turun dan menjarah lahan pertanian milik warga.
“Kenapa MPTS? Karena di hutan kita kurang buah-buahan. Kalau tidak ada pakan, satwa seperti monyet akan menyerang tanah milik warga. Jadi solusinya, di dalam kawasan kita kasih tanaman buah-buahan untuk persiapan makan mereka,” jelas Jafar.
Saat ini, persemaian di Desa Setianegara berfungsi sebagai sentra atau indukan bagi kelompok tani lainnya. Beragam jenis bibit endemik asli tersedia, mulai dari Solatri, Peuteag, Picung, Benda, Salam, Kiteja, hingga Huru Madam.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar, menambahkan bahwa pembuatan bibit ini telah dimulai sejak akhir tahun 2023. Hingga kini, terdapat hampir 200 jenis bibit yang dikembangkan, termasuk Pinus, untuk mendukung fungsi konservasi.
“Kebetulan di Setianegara itu persemaian induk. Pihak TNGC juga sering meminta bibit ke sini jika stok mereka kosong. Alhamdulillah, persemaian kita juga sudah menyebar ke tiap KTH,” ungkap Nandar.
Nandar juga mengungkapkan rencana ke depan. Memasuki bulan Maret atau saat bulan puasa nanti, pihaknya akan meningkatkan produksi bibit sembari menunggu waktu berbuka (ngabuburit). Fokus utama tetap pada perbanyakan tanaman endemik dan MPTS untuk memperkuat sabuk hijau Gunung Ciremai. (Nars)


