KUNINGAN – Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) kembali mencatatkan prestasi gemilang dalam upaya pelestarian hayati yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pihsk BTNGC berhasil mengisolasi bakteri bermanfaat atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dari dalam kawasan hutan konservasi yang diberi nama PGPR C71.
- Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan
- Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2
- Bidik Pasar Global, Kuningan Siapkan Diri Jadi Pemain Kopi Kualitas Dunia
- Demo Warga Kalimanggis Kulon Berbuah Hasil, Kades Wahidi Dipastikan Tak Ngantor Lagi Mulai Besok
- Limpasan Sampah Eceng Gondok Waduk Darma Cemari Sungai Cisanggarung, Warga Kadugede Protes
Petugas Pengendali Ekosistem Hutan BTNGC, Sylvia Lucyanti, menjelaskan bahwa penemuan ini bermula dari eksplorasi mikrobiologi yang dilakukan sejak tahun 2018. Langkah ini diambil untuk mendukung visi role model “Pertanian Sehat” yang diusung oleh Kepala Balai saat itu, Almarhum Padmo Wiyoso.
“Awalnya kami ingin menggali potensi mikrobiologi dalam kawasan untuk mendukung pertanian sehat. Dari eksplorasi itu, kami menemukan mikroba bermanfaat yang mengandung bakteri Lysinibacillus fusiformis,” ujar Sylvia dalam keterangannya, belum lama ini.
Menurut Sylvia, PGPR C71 memiliki keunggulan dibandingkan produk serupa yang ada di pasaran.
Berdasarkan kajian pakar mikroba IPB, Prof. Suryo Wiyono, bakteri ini merupakan isolat murni yang diambil langsung dari ekosistem kawasan konservasi yang terjaga, sehingga bebas dari kontaminasi atau pencemaran lahan pertanian konvensional.
“Khasnya, ini adalah bakteri asli dari kawasan konservasi yang kemurniannya masih terjaga. Jenis Lysinibacillus ini tergolong temuan baru dari kawasan konservasi, berbeda dengan jenis Bacillus yang umum ditemukan di tempat lain,” ungkapnya.
Bakteri ini diisolasi dari perakaran tumbuhan Kirinyuh (Chromolaena odorata), sejenis tumbuhan bawah yang banyak tumbuh di Gunung Ciremai.
Sylvia menjelaskan filosofi penemuan ini didasari pada pengamatan lapangan (Iqro) mengapa tanaman tertentu seperti Cantigi mampu bertahan hidup di puncak gunung dengan suhu ekstrem dan lahan kering.
PGPR C71 telah terbukti mampu memacu pertumbuhan tanaman, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat daya tahan tanaman terhadap penyakit dan cuaca ekstrem. Lebih jauh, inovasi ini sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim.
“Produk ini bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang merupakan salah satu penyumbang emisi karbon. Keamanan hayatinya juga sudah teruji laboratorium dan mendapatkan sertifikat paten yang diserahkan langsung oleh Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya, pada tahun 2024,” jelas Sylvia.
Meski demikian, Sylvia mengakui bahwa saat ini produksi PGPR C71 masih terbatas untuk kalangan internal dan kelompok tani di desa penyangga TNGC melalui dukungan anggaran DIPA.
“Belum ke arah komersial karena prosedurnya panjang. Namun, kami terus melakukan sosialisasi dan uji coba lapangan bersama masyarakat. Kami membutuhkan kolaborasi dengan penyuluh pertanian dan pemerintah daerah agar manfaat ini bisa dirasakan lebih luas oleh petani di luar kawasan,” tambahnya.
Terkait kelestarian sumber bakteri di tengah aktivitas wisata dan pendakian, Sylvia memastikan bahwa zonasi di TNGC menjadi benteng perlindungan. Selain itu, karena bakteri ini sudah dalam bentuk isolat, ia dapat diperbanyak di laboratorium tanpa harus terus-menerus mengeksploitasi alam secara masif. (Nars)

























