KUNINGAN — Menjelang perayaan Lebaran Idul Adha, tren penjualan hewan ternak di Kabupaten Kuningan mengalami kelesuan. Kenaikan harga sapi yang dipicu oleh tingginya biaya operasional membuat daya beli masyarakat menurun drastis, sebuah kondisi yang kini dirasakan oleh hampir seluruh pengusaha ternak di wilayah tersebut.
Salah seorang pengusaha ternak sapi senior asal Desa Karangkamulyan, Kecamatan Ciawigebang, H. Yusuf atau yang akrab disapa “Akang Gaya”, membenarkan fenomena ini. Menurutnya, penjualan tahun ini terasa lebih berat dibandingkan musim kurban sebelumnya.
- Imbas Dolar dan Harga Pakan, Penjualan Sapi Kurban di Ciawigebang Kuningan Lesu
- Tak Pernah Diam: Usai Situ Sangga Buana, Ketua RT Dedi Rusyadi Kini Bantu Wujudkan Kampung KB Cijoho
- Klarifikasi Isu Gratifikasi Pokir Kuningan, Pengusaha J Tegaskan Murni Utang Pribadi
- Hattrick Juara ISL 2026: Solidnya Pertahanan Jadi Kunci Utama Persib Bandung, Ini Kata Bojan Hodak
- Satu Langkah Menuju Hattrick Juara: Ribuan Bobotoh Kuningan Birukan Pandapa Paramarta
“Biasanya menjelang Lebaran seperti ini, penjualan kita sudah laku lebih dari 100 ekor. Namun untuk saat ini, jumlah tersebut belum tercapai,” ungkap H. Yusuf.
Lebih lanjut, Akang Gaya menjelaskan bahwa kenaikan harga jual sapi tidak bisa dihindari. Pihaknya terpaksa menaikkan harga hingga Rp 2 juta per ekor. Saat ini, harga sapi di peternakannya dibanderol di kisaran Rp 16 juta hingga Rp 30 juta, bergantung pada ukuran dengan bobot variatif mulai dari 2,5 kuintal hingga 1 ton.
Kenaikan harga ini bukan tanpa alasan. Ia memaparkan ada tiga faktor utama yang mencekik biaya operasional peternak. Pertama, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kedua, lonjakan harga pakan yang sangat signifikan, di mana biaya pakan untuk satu ekor sapi kini bisa menelan dana hingga Rp 10 juta per tahun.
Terakhir, terdapat sedikit imbas dari kenaikan harga BBM non-subsidi yang mempengaruhi ongkos logistik.
Meski pasar lokal sedang lesu, peternakan yang dikelola H. Yusuf tidak kehilangan arah. Sebagai pengusaha yang telah merintis bisnis warisan orang tuanya selama 25 tahun, ia memiliki jaringan pasar yang luas. Sapi-sapi dari peternakannya, baik hasil ternak mandiri maupun pasokan dari luar, rutin dikirim hingga ke luar daerah, membentang dari Serang, Banten, hingga Demak, Jawa Tengah.
Selain menyediakan berbagai jenis sapi, Akang Gaya juga menyiapkan Kebo Bule (kerbau albino). Hewan-hewan ini disediakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari ibadah kurban hingga hajatan adat.
Untuk menjaga kualitas, seluruh hewan di peternakan ini mendapatkan penanganan ketat. Pihaknya rutin berkoordinasi dengan Dinas Peternakan setempat untuk melakukan pemantauan kesehatan hewan, guna memastikan seluruh ternak terbebas dari penyakit dan layak konsumsi.
Untuk memberikan kemudahan ekstra bagi konsumen, peternakan Akang Gaya menyediakan layanan sistem penitipan dengan biaya khusus. Hewan yang sudah dibeli dapat dititipkan dan dirawat di kandang hingga waktu yang disepakati, untuk kemudian diambil atau diantarkan langsung ke lokasi pembeli.
Meski angka penjualan saat ini masih di bawah target, H. Yusuf tetap optimis. “Puncak penjualan biasanya masih terus berlangsung. Kita masih ada waktu melayani pembeli hingga hari ketiga Lebaran,” ujarnya. (Nars)















