

KUNINGAN – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat, Wahyu Wijaya, menyoroti ancaman serius yang menyasar generasi muda melalui media digital. Menurutnya, pelemahan rasa cinta tanah air dan pemahaman agama kini menyusup secara halus melalui permainan daring (game) yang bermuatan kekerasan.
- Dapur Umum BPBD di TPSA Ciniru Kuningan Beroperasi Dukung Logistik Ratusan Personel
- Menjawab Pertanyaan Wisatawan: Gunung Ciremai Dimana? Ini Lokasi dan Pesona Alamnya
- Sambut HUT Ke-81 RI Kodim 0615 Kuningan Gelar Doa Syukur Keselamatan Bangsa
- Tina Wiryawati Dukung Pemprov Jabar Resmi Ambil Alih MTQ 2027
- Memaknai QS Yunus 58 dalam Syukur Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi
Hal tersebut ditegaskan Wahyu saat diwawancarai di sela-sela kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan bagi Generasi Muda di Villa De La Tina, Desa Puncak, Kabupaten Kuningan, Selasa (25/11/2025).
”Pelemahan dari luar ini menyasar langsung kepada generasi muda. Mereka dilemahkan pemahaman agamanya dan kecintaannya pada tanah air. Ini masuk melalui berbagai game yang dimainkan anak-anak kita yang mulai diarahkan pada isu-isu kekerasan,” ujar Wahyu.
Wahyu menjelaskan bahwa pemahaman wawasan kebangsaan harus diberikan secara simultan dan menyeluruh. Mengingat Indonesia memiliki kekayaan keberagaman yang luar biasa, dengan lebih dari 1.300 suku bangsa, serta beragam bahasa dan kepercayaan.
”Aset keberagaman ini harus dipelihara. Kita harus membangun kondusifitas agar Jawa Barat tetap aman. Jika aman, ekonomi bisa tumbuh dan Sumber Daya Manusia (SDM) bisa terus dibangun,” paparnya.
Namun, Wahyu menyadari bahwa tugas berat ini tidak mungkin dipikul oleh pemerintah sendirian. Ia menyerukan perlunya sinergitas yang kuat (pentahelix) antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.
”Ini perlu sinergitas, harus dibangun bareng-bareng. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja,” tegasnya.
Menatap tahun anggaran depan, Bakesbangpol Jabar telah menyiapkan strategi khusus. Wahyu menyebutkan pihaknya akan fokus membentengi pelajar agar tidak terjerumus pada paham radikalisme dan terorisme.
Uniknya, sasaran sosialisasi tidak hanya berhenti pada anak muda. Wahyu menekankan pentingnya peran perempuan dalam strategi ini.
”Selain kepada anak-anak, pembinaan ini juga akan menyasar kaum ibu. Bagaimanapun, ibu adalah pondasi pendidikan karakter di dalam keluarga,” sebutnya. (Nars)



