KUNINGAN – Kepala SMAN 1 Luragung, Suleha, akhirnya angkat bicara terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan siswanya. Ia membeberkan kronologi kejadian sekaligus memberikan masukan agar manajemen dapur penyedia makanan bergizi gratis (MBG) dievaluasi.
Suleha menjelaskan, pihak sekolah baru mengetahui banyak siswa sakit pada Jumat pagi (3/10/2025), ketika sejumlah peserta didik mengeluh lemas, mual, dan diare.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
“Tadi pagi kami baru tahu ada anak-anak yang sakit. Gejalanya diare, jadi kami langsung bergerak cepat membawa mereka ke puskesmas. Semua yang menunjukkan gejala langsung kami antar,” ujarnya.
Menurutnya, keluhan kesehatan tersebut sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak Kamis malam. Beberapa siswa tetap memaksakan diri masuk sekolah pada keesokan harinya, namun akhirnya tumbang saat kegiatan belajar berlangsung.
Dugaan sementara, kata Suleha, gejala sakit itu berasal dari menu MBG yang dikonsumsi pada Kamis (2/10/2025). Paket makanan hari itu terdiri dari ayam kecap, tempe bacem, buah anggur, dan sayuran. “Gejala muncul malam hari setelah anak-anak pulang. Tapi ini masih dugaan, karena sampel makanan dan feses siswa masih menunggu hasil uji laboratorium,” jelasnya.
Suleha menegaskan bahwa program MBG di sekolahnya sudah berjalan hampir tiga bulan dan tidak pernah mengalami masalah serupa sebelumnya. Namun, insiden ini menurutnya harus menjadi bahan evaluasi serius, terutama menyangkut manajemen dapur penyedia makanan.
“Harapan kami ada perbaikan, terutama terkait manajemen masak. Kalau siswa makan jam 12 siang, paling tidak masaknya jangan terlalu lama sebelumnya untuk menjaga kualitas,” kata Suleha.
Ia juga menambahkan, sekolah hanya berperan sebagai penerima manfaat program MBG dan tidak memiliki kewenangan langsung dalam penunjukan maupun pengelolaan dapur penyedia makanan.
Oleh karena itu, ia berharap instansi terkait dapat memastikan dapur penyedia makanan benar-benar menjaga standar kualitas dan kebersihan agar insiden serupa tidak terulang. (Nars)
























