Bencana Insiden Kuningan Lingkungan

Kuningan Bersiap Hadapi Kemarau Panjang, Ancaman Krisis Air dan Karhutla Mengintai

KUNINGAN – Warga dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan harus segera menyalakan alarm kewaspadaan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah ini akan segera menghadapi siklus kemarau panjang yang membawa dua ancaman ganda sekaligus: krisis air bersih dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, menjelaskan masa siaga hidrometeorologi basah di Kuningan diproyeksikan berakhir pada April ini. Memasuki bulan Mei, imbuhnya, peralihan musim akan terasa drastis karena wilayah ini diprediksi mulai memasuki musim kemarau secara efektif.

“Berbeda dengan siklus tahun lalu yang tertolong oleh fenomena kemarau basah, BMKG memprediksi durasi musim kering tahun ini bakal berlangsung lebih lama dari rata-rata tahunan. Jika tidak diantisipasi sejak dini, potensi bencana bawaan kemarau bisa berdampak luas,” ungkapnya, Selasa (17/3/2026) siang di ruang kerjanya.

Pihaknya sudah melakukan pemetaan kerawanan wilayah untuk yang bisa terdampak bencana. Untuk ancaman krisis air bersih, kawasan Kuningan bagian timur kembali masuk dalam radar pengawasan utama.

Daerah seperti Kecamatan Cimahi, Karangkancana, Ciwaru, hingga Cibingbin tercatat sebagai wilayah langganan krisis air baku setiap kali musim kering tiba.

Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan

“Meski pada kemarau tahun lalu permintaan dropping air bersih ke kawasan tersebut bisa ditekan hingga hanya satu kali pengiriman, kami tetap berupaya mitigasi seperti perluasan jaringan pipanisasi dan kampanye perawatan sumber mata air terus dikebut untuk mempertahankan tren positif tersebut,” papar IBE, sapaannya.

Ia menambahkan, ancaman serius lainnya datang dari potensi kebakaran hutan dan lahan. Wilayah Kuningan bagian utara yang berbatasan langsung dengan kawasan Perhutani dan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dipetakan sebagai zona merah. Titik rawan ini membentang dari Kecamatan Pasawahan, Mandirancan, Cilimus, hingga Jalaksana.

“Berdasarkan temuan di lapangan, pemicu karhutla rupanya tidak murni karena faktor gesekan alam. Kecerobohan warga yang membakar lahan sisa panen, membersihkan pekarangan, atau membakar sampah di area permukiman pinggir hutan kerap menjadi biang kerok,” sebutnya.

Hembusan angin kering kemarau membuat percikan api kecil dengan mudah menjalar tak terkendali. Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Kuningan tengah merumuskan Surat Edaran (SE) resmi. Aturan ini akan memuat larangan tegas bagi warga untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sembarangan, sekaligus menginstruksikan penghematan penggunaan air.

Di tingkat operasional, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla juga kembali dipanaskan untuk memperkuat koordinasi dan respons cepat relawan di titik-titik rawan.

Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK

Masyarakat kini diimbau untuk proaktif mengubah kebiasaan. Menghemat air dan menyudahi praktik bakar lahan menjadi langkah krusial untuk mencegah Kuningan terkepung krisis air dan kabut asap di puncak kemarau nanti. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement