Kalimat itu sederhana, tapi bisa mengguncang nurani bagi siapapun yang membacanya.
Lahir dari ucapan panutan polisi paling jujur yang pernah dimiliki bangsa ini yakni Jenderal Hoegeng, tokoh yang keteladanan hidupnya jadi simbol keberanian melawan korupsi, integritas di tengah godaan, dan kesederhanaan di puncak kekuasaan.
Pesan ini menyiratkan bahwa harga diri dan kejujuran jauh lebih berharga daripada kekayaan yang didapat dengan cara kotor dan hina.
- Atmosfer Hangat di Agra Cafe Cijoho: Kebanggaan Bobotoh Kuningan Rayakan Kemenangan Persib atas Melbourne Victory di ACL 2
- Ngabihi se-Kecamatan Sindangagung Gelar Rakor Bulanan, Siap Sukseskan Deklarasi Aslinmas Jabar
- Marak Kos-kosan “Nakal” di Kuningan, Satpol PP Tegaskan Penertiban Terus Berjalan
- Disdikbud Kuningan Pastikan Perbaikan Ruang Belajar SDN 3 Cihirup Segera Dilaksanakan
- Tinjau Pasca Karhutla Ciremai, KDM Murka Lihat Tambang Batu Beroperasi Lagi di Desa Padabeunghar
Apalah artinya seseorang mendapatkan seluruh isi dunia tetapi ia kehilangan jiwanya. Kejujuran itu prinsip, bukan pilihan. Integritas tidak bisa dibeli apalagi ditawar.
Bahkan kalau cuma makan nasi dan garam, asalkan hati tenang dan tugas dijalankan dengan benar, itu lebih mulia daripada hidup mewah tapi penuh tipu daya.Kalimat ini menampar siapa pun yang menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri atau keserakahan.
Dunia hari ini dipenuhi dengan tawaran cepat kaya, jalan pintas, kompromi atas nilai. Tapi Jenderal Hoegeng mengingatkan: lebih baik sederhana tapi terhormat, daripada kaya tapi hina.
Jenderal Hoegeng bukan hanya mantan Kapolri, ia adalah cermin langka dari sosok yang menolak disuap, menolak dibengkokkan, dan menolak hidup di atas dusta.
Tulisan Dalam Rangka Renungan HUT RI ke-80
Kuningan, 16 Agustus 2025
Uha Juhana
Ketua GMNI Kuningan Periode 2003 – 2006
