Kalimat itu sederhana, tapi bisa mengguncang nurani bagi siapapun yang membacanya.
Lahir dari ucapan panutan polisi paling jujur yang pernah dimiliki bangsa ini yakni Jenderal Hoegeng, tokoh yang keteladanan hidupnya jadi simbol keberanian melawan korupsi, integritas di tengah godaan, dan kesederhanaan di puncak kekuasaan.
Pesan ini menyiratkan bahwa harga diri dan kejujuran jauh lebih berharga daripada kekayaan yang didapat dengan cara kotor dan hina.
- 21 Daerah Jabar Raih WTP, Pengumuman LHP BPK Kuningan Ditunda, Kenapa?
- Resmi Naik! Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 Meroket per 10 Juni 2026
- Polemik Dana Pokir PKS Kuningan: Mantan Dewan Soroti Etika Komunikasi, Fraksi Janjikan Evaluasi
- Dramatis, Petugas Gabungan di Kuningan Berhasil Bujuk Seorang Ibu yang Ingin Akhiri Hidup
- Satlantas Kuningan Tunda Jadwal Patuh Lodaya 2026, Polisi: Tertib Berlalu Lintas Jangan Tunggu Ada Operasi
Apalah artinya seseorang mendapatkan seluruh isi dunia tetapi ia kehilangan jiwanya. Kejujuran itu prinsip, bukan pilihan. Integritas tidak bisa dibeli apalagi ditawar.
Bahkan kalau cuma makan nasi dan garam, asalkan hati tenang dan tugas dijalankan dengan benar, itu lebih mulia daripada hidup mewah tapi penuh tipu daya.Kalimat ini menampar siapa pun yang menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri atau keserakahan.
Dunia hari ini dipenuhi dengan tawaran cepat kaya, jalan pintas, kompromi atas nilai. Tapi Jenderal Hoegeng mengingatkan: lebih baik sederhana tapi terhormat, daripada kaya tapi hina.
Jenderal Hoegeng bukan hanya mantan Kapolri, ia adalah cermin langka dari sosok yang menolak disuap, menolak dibengkokkan, dan menolak hidup di atas dusta.
Tulisan Dalam Rangka Renungan HUT RI ke-80
Kuningan, 16 Agustus 2025
Uha Juhana
Ketua GMNI Kuningan Periode 2003 – 2006














