Advertisement Advertisement
Lingkungan Artikel Ragam

12 Agustus Hari Gajah Sedunia, Mengenal Jenis Gajah dan Tantangan Konservasinya

LINGKUNGAN – Setiap tanggal 12 Agustus, dunia memperingati World Elephant Day atau Hari Gajah Sedunia. Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan gajah dan melindungi habitat satwa ikonik yang telah menjadi simbol kebijaksanaan dan kekuatan di berbagai budaya. Menurut data dari National Today, jumlah populasi gajah mengalami penurunan drastis hingga 62% dalam dekade terakhir.

Ancaman itu datang dari perburuan gading, perdagangan ilegal, kerusakan habitat, hingga konflik dengan manusia akibat alih fungsi lahan.

Di banyak wilayah, gajah terpaksa memasuki kawasan manusia untuk mencari makan ketika habitatnya hilang. Konflik seperti ini sering berujung fatal bagi satwa maupun warga. Jika hal ini terus berlanjut tanpa intervensi serius, gajah terancam punah dari alam liar.Kesadaran akan ancaman tersebut mendorong lahirnya Hari Gajah Sedunia.

Gagasan ini diinisiasi oleh Patricia Sims, pembuat film asal Kanada, bersama Elephant Reintroduction Foundation di Thailand. Pada 12 Agustus 2012, mereka secara resmi menetapkan momen internasional ini, yang didukung oleh berbagai organisasi lingkungan, tokoh masyarakat, dan lembaga pemerhati satwa liar di seluruh dunia.

Hari Gajah Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan gerakan global untuk menjaga habitat gajah, menentang perburuan liar, serta mendorong kebijakan perlindungan satwa yang lebih ketat. Momen ini juga menjadi ruang berbagi kisah penyelamatan gajah dari berbagai belahan dunia.

Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong

Jenis-Jenis Gajah di Dunia

Menurut laman World Atlas, secara ilmiah gajah adalah mamalia darat besar dari famili Elephantidae dalam ordo Proboscidea. Kerabat terdekatnya adalah dugong, manatee, dan hyrax. Saat ini terdapat dua jenis gajah utama, gajah Afrika (Loxodonta) dan gajah Asia (Elephas).

1. Gajah Afrika

Gajah Afrika termasuk dalam genus Loxodonta dan terbagi menjadi dua spesies utama, yaitu gajah semak Afrika (Loxodonta africana) dan gajah hutan Afrika (Loxodonta cyclotis).

a. Gajah Semak Afrika (Gajah Sabana)

Kado Manis Hari Pers Nasional 2026, Wartawan Utama di Kuningan Bertambah Satu Lagi‎‎

Gajah Semak Afrika. (Wikimedia Commons)

Merupakan hewan darat terbesar di Bumi, dengan berat hingga 10,4 ton dan tinggi bahu mencapai 4,5 meter. Telinga besar mereka berfungsi membuang panas, belalai panjang, dan gading besar terdapat pada kedua jenis kelamin. Gajah ini terbagi lagi menjadi empat subspesies:

  • Gajah Masai atau Gajah Semak Afrika Timur (L. a. knochenhaueri). Ditemukan di Kenya, Uganda, Tanzania, timur Republik Demokratik Kongo, Rwanda, dan Angola.
  • Gajah Dataran Afrika atau Gajah Semak Afrika Barat (L. a. oxyotis). Menyebar di Senegal, Mauritania, Nigeria, Kamerun Utara, Ethiopia, Somalia, dan Liberia.
  • Gajah Semak Afrika Utara (L. a. pharaohensis). Dahulu mendiami Sahara, kini diyakini telah punah.

b. Gajah Hutan Afrika

Gajah Hutan Afrika (Wikimedia-edited)

Hidup di hutan-hutan cekungan Kongo. Awalnya dianggap satu spesies dengan gajah semak, namun studi genetik membuktikan bahwa keduanya berevolusi terpisah 2–7 juta tahun lalu.

Gajah hutan berwarna lebih gelap, bertubuh lebih kecil, bertelinga lebih bulat, dan memiliki gading yang lebih lurus serta kuat untuk menerobos semak belukar. Mereka juga memiliki lima kuku di kaki depan dan empat di kaki belakang.

Tingkat kelahiran yang rendah membuat pemulihan populasi mereka lebih lama dibandingkan gajah sabana.

Regenerasi Penjaga Ciremai, KTH Majalengka Tularkan Cinta Ciremai ke Ratusan Pelajar

2. Gajah Asia

Gajah Asia (konservasigajah)

Satu-satunya spesies yang masih hidup dari genus Elephas, gajah Asia tersebar dari anak benua India hingga Asia Tenggara. Secara umum, gajah Asia lebih kecil dari gajah Afrika, dengan titik tertinggi tubuh berada di kepala. Mereka memiliki kepala berkubah ganda, punggung cembung atau rata, telinga lebih kecil, serta lebih banyak kuku di kakinya.

Betina Asia tidak memiliki gading, sementara jantannya bisa memiliki atau tidak memiliki gading.

a. Gajah India (Elephas maximus indicus)

Salah satu dari tiga subspesies gajah Asia, berasal dari daratan Asia. Tinggi bahu 2–3,5 meter, berat 4.000–5.000 kilogram, dan memiliki 19 pasang tulang rusuk. Kulitnya lebih terang dari gajah Sri Lanka tetapi lebih gelap dari gajah Sumatra.

Betina lebih kecil dan biasanya tidak memiliki gading. Status konservasi mereka terancam punah menurut IUCN, akibat perburuan liar, hilangnya habitat, deforestasi, fragmentasi, konflik dengan manusia, serta kecelakaan jalan dan kereta api.

b. Gajah Sri Lanka (Elephas maximus maximus)

Merupakan subspesies gajah Asia terbesar. Tinggi bahu 2–3,5 meter, berat 2.000–5.000 kilogram, dan memiliki 19 pasang tulang rusuk. Kulitnya lebih gelap dari dua subspesies lainnya, dengan bercak depigmentasi yang jelas. Hanya sekitar 7% jantan yang memiliki gading. Populasi mereka terus menurun drastis akibat penggundulan hutan dan penyempitan habitat.

c. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus)

Memiliki tinggi bahu 2–3,2 meter dan berat 2.000–4.000 kilogram, dengan kulit lebih terang. Statusnya kritically endangered menurut IUCN. Hilangnya habitat akibat deforestasi dan perburuan menjadi ancaman utama.

d. Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis)

Ditemukan di bagian utara dan timur laut Kalimantan. Asal-usulnya masih diperdebatkan; ada teori bahwa mereka keturunan gajah domestik dari Sultan Sulu. Meski sering dijuluki “gajah kerdil”, ukurannya serupa dengan gajah di Semenanjung Malaysia. Dikenal jinak dan pasif.

Hari Gajah Sedunia menjadi saat yang tepat untuk membuka mata kita bahwa gajah bukan sekadar simbol atau daya tarik wisata, melainkan bagian penting dari keseimbangan ekosistem. Melindungi mereka berarti melindungi masa depan lingkungan hidup kita. Tanpa langkah nyata hari ini, generasi berikutnya mungkin hanya akan mengenal raksasa lembut ini lewat visual video, foto dan cerita dongeng. [UN]

× Advertisement
× Advertisement