Budaya Kuningan Wisata

Antusias Tinggi, Pengunjung Embun Sangga Langit Kuningan Apresiasi Suguhan Budaya Tarawangsa

KUNINGAN — Suasana malam di lereng Gunung Ciremai, tepatnya di destinasi wisata Embun Sangga Langit, Palutungan-Cisantana, berubah jadi panggung apresiasi budaya pada Sabtu malam (30/5/2026). Bertepatan dengan momentum Blue Moon, pengunjung yang memadati area glamping dan restoran antusias menyaksikan pertunjukan seni tradisional Sunda: Tarawangsa.

Berbeda dari hiburan wisata pada umumnya, sajian musik gesek dan petik kayu tradisional itu justru jadi magnet utama malam itu. Para tamu rela duduk berlama-lama di panggung kayu terbuka meski hawa pegunungan cukup dingin.

Pantauan di lokasi, panggung kayu estetik dengan sorotan spotlight jadi pusat perhatian. Para seniman lokal berseragam adat Sunda hitam lengkap iket kepala tampil khusyuk. Dua pemain utama duduk bersila memainkan dawai, diiringi personel lain di belakang.

Respons pengunjung langsung terlihat. Banyak yang merekam, bertepuk tangan tiap akhir lagu, bahkan sengaja menunda masuk kamar demi menonton sampai tuntas.

Anastasia (28), wisatawan asal Jabodetabek, mengaku awalnya datang hanya untuk healing di glamping. “Tapi pas ada Tarawangsa malam-malam gini, saya jadi betah di luar. Musiknya beda, kerasa banget nilai budayanya. Saya sampe videoin semua biar bisa cerita ke temen-temen di Jakarta kalau di Kuningan ada suguhan kayak gini,” ujarnya.

Kemeriahan Grand Opening Padelazo Kuningan: Gunting Pita, Padelazo Run, dan Gairah Baru Olahraga Komunitas

Sementara itu, Rudi (34), wisatawan asal Pontianak yang memanfaatkan libur panjang Mei, juga memberi apresiasi tinggi. “Jujur baru pertama kali lihat langsung Tarawangsa se-dekat ini. Konsep Embun Sangga Langit yang ngasih ruang buat budaya lokal tampil di tengah fasilitas modern, itu keren. Nggak banyak tempat wisata yang mau kayak gini,” kata Rudi.

Asisten General Manager Embun Sangga Langit, Haris Winata, menyebut pertunjukan Tarawangsa adalah bagian dari komitmen pelestarian.“Kami nggak mau Embun Sangga Langit cuma dikenal sebagai glamping modern Seruni atau Edelweiss aja. Kami pengen tempat ini jadi ruang hidup buat budaya Sunda. Seniman lokal dapat panggung, pengunjung dapat pengalaman baru,” jelas Haris.

Ia menambahkan, angka kunjungan wisata ke Embun Sangga Langit naik sampai 300% bulan ini. Karena itu, pengelola sengaja memasukkan agenda budaya rutin agar pertumbuhan wisata berjalan seiring pelestarian kearifan lokal.Malam penutup libur panjang Mei 2026 ditutup tepuk tangan panjang dari pengunjung.

Buat banyak tamu, Tarawangsa bukan sekadar hiburan, tapi jadi kesan bahwa wisata modern dan tradisi Sunda bisa berjalan bersamaan. (Nars)

SK Kepengurusan Segera Turun, DPC PKB Kuningan Siap Sukseskan Pelantikan Serentak dan Jabar Fest
× Advertisement
× Advertisement