Bencana Kuningan Lingkungan

Ironi Gunung Mayana: Di Balik Viral Wisata Sunset, Warga Dihantui Krisis Mata Air

banner 468x60

KUNINGAN — Eksotisme puncak Gunung Mayana di Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, belakangan ini tengah menjadi buah bibir di media sosial. Dari ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), destinasi wisata baru ini menawarkan panorama matahari terbenam (sunset) yang memukau dan lanskap Kuningan yang memanjakan mata.

Namun, di balik keindahan yang sedang ramai diperbincangkan itu, tersimpan jeritan ekologis dari warga setempat. Lereng Gunung Mayana kini sedang terluka akibat alih fungsi lahan yang masif.

banner 336x280

Berdasarkan pengamatan citra satelit, kawasan yang pada tahun 2021 lalu masih menghijau royo-royo, kini hingga tahun 2026 telah mengalami perubahan bentang alam yang mencolok. Tutupan hutan terus menyusut, digantikan oleh pembukaan lahan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas yang ditengarai untuk keperluan wisata.

Bagi masyarakat Sunda di sekitar Kadugede, kawasan lereng tersebut bukan sekadar hutan biasa. Area itu dipercaya sebagai leuweung larangan (hutan titipan/lindung) yang tabu untuk dirusak.

Secara ekologis, kawasan ini berfungsi sebagai penyangga ekosistem, daerah resapan air, sekaligus benteng pencegah erosi.Kini, dampak nyata dari hilangnya pohon-pohon penyerap air tersebut mulai dirasakan langsung oleh warga.

12 Tersangka Narkoba Digulung Polres Kuningan, Satu Tersangka Nekad Tanam Ganja di Pot

Tiga mata air krusial yang selama ini menopang kehidupan masyarakat dan sektor pertanian—yakni Mata Air Cikiray, Curug Jangkung, dan Cigula—dilaporkan mulai menyusut drastis.

“Gunung Mayana itu ikon Kecamatan Kadugede. Sekarang banyak pembangunan entah untuk wisata atau lainnya. Pasti sedikit banyak akan berdampak, entah pada iklim, kekeringan, atau kekurangan air,” ujar Deni Darmadi, warga Desa Kadugede yang menyaksikan langsung perubahan drastis desanya.

Deni menambahkan, warga sangat bergantung pada ketiga mata air tersebut untuk mengairi lahan pertanian mereka. Jika pembabatan pohon terus berlanjut tanpa kendali, ancaman kekeringan ekstrem saat musim kemarau bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kepastian yang menakutkan.

Gunung Mayana sebenarnya memiliki modal lengkap sebagai destinasi unggulan. Selain Bukit Pamoroan yang eksotis, di puncaknya juga terdapat situs religi Petilasan Syekh Manshur Mulya Mangkuning Nagara dan Syekh Arya Amir Mukminin yang potensial dikembangkan sebagai wisata religi Jawa Barat.

Jalur pendakian via Desa Sindangjawa pun menawarkan konsep desa wisata berbasis alam yang asri.Namun, alih fungsi lahan yang terjadi saat ini memicu pertanyaan besar: Apakah demi memuaskan hasrat pariwisata, ekosistem penyangga kehidupan harus dikorbankan?

Revisi RTRW Kuningan Buka Peluang Wisata Lereng Ciremai, Pemkab Kuningan Beri Batasan Ini

Masyarakat sekitar kini mulai menyuarakan pentingnya keseimbangan. Mereka menegaskan tidak menolak pembangunan atau pariwisata, namun menuntut agar setiap pengembangan kawasan tetap menghormati daya dukung lingkungan.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah tegas untuk menerapkan konsep pembangunan berbasis konservasi. Tanpa adanya tindakan nyata untuk menjaga kelestarian leuweung larangan ini, keindahan sunset di puncak Gunung Mayana kelak hanya akan menjadi saksi bisu runtuhnya kemandirian air masyarakat Kadugede. (Nars)

banner 336x280
× Advertisement
× Advertisement