Budaya Jawa Barat Kuningan Parlemen

Lirik Potensi Silat, Tina Wiryawati Dorong Budaya Sunda Dikemas Sekreatif ‘Drakor dan Dracin”

KUNINGAN – Budaya lokal sejatinya memiliki daya jual dan potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola dengan sentuhan kreativitas modern. Berkaca dari suksesnya industri hiburan Korea Selatan dan Cina yang merajai dunia, seni tradisi Sunda didorong untuk berani berinovasi memikat hati Generasi Z.

Gagasan ini dilontarkan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, S.H., M.M. Wakil rakyat dari Fraksi Partai Gerindra (Dapil Jabar 13: Kabupaten Kuningan, Ciamis, Pangandaran, dan Kota Banjar) ini bercerita, jika budaya lokal ” dikemas ulang” ke dalam bentuk pop kultur yang lebih relevan dengan anak muda, tentu akan lebih mudah dikenali dan jadi dicintai.

Salah satu fokus utama yang jadi contoh untuk dikenalkan pada generasi muda adalah kesenian bela diri Pencak Silat. Alih-alih hanya dikembangkan sebagai cabang olahraga, Tina melihat peluang besar untuk mengangkat silat ke ranah media kreatif seperti film pendek atau podcast.

“Pencak silat ini sudah masuk cabang olahraga Olimpiade, dan aktor laga kita sudah tembus Hollywood. Saya ingin silat ini dikelola pengenalannya untuk generasi ke depan. Kenapa Drama Korea atau Drama Cina sangat disukai? Saya ingin silat dibikin film pendek atau format lain yang menarik untuk Gen Z ke bawah,” ungkap Tina.

Ia mencontohkan, kekayaan tradisi seperti ilmu kebal ‘Debus’ atau metode penyembuhan patah tulang khas ‘Cimande’ adalah aset unik yang tidak dimiliki negara Barat. Jika dikemas secara sinematik dengan visual dan alur cerita yang kuat, hal ini bisa menjadi komoditas luar biasa.

Budaya Asing Mengancam Gen-Z, Tina Wiryawati Minta Perda Kebudayaan Diwujudkan dalam Aksi Nyata

Tina menyadari, pendekatan budaya di era modern tidak bisa dilepaskan dari potensi perputaran ekonomi atau cuan.”Kalau kita bicara budaya dilanjut ke kita bicara film atau ekonomi kreatif. Dari budaya tersebutlah akan masuk yang namanya makanan, produk-produk lokal, dan dari sanalah akan masuk cuan. Selain menumbuhkan rasa bangga terhadap negara, ujung-ujungnya ke depan urusannya adalah ekonomi,” paparnya.

Ke depan, ia berharap para pelaku industri kreatif dapat berkolaborasi untuk mengejawantahkan Perda Kebudayaan ke dalam karya seni modern—baik film, tari-tarian seperti Jaipong yang dikolaborasikan dengan musik masa kini, maupun konten digital lainnya—sehingga tradisi Sunda tidak hanya lestari, tetapi juga mendunia dan bernilai ekonomis. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement