

BANDUNG — Wali Kota Bandung, Farhan, melontarkan pandangan krusial mengenai arah perkembangan media di era disrupsi digital. Ia menegaskan pentingnya insan pers untuk berani melakukan dekonstruksi dan peninjauan kembali (re-evaluasi) terhadap esensi serta proses kerja jurnalistik masa kini.
Hal tersebut ditegaskan Farhan saat memberikan arahan pada Pembukaan Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Jawa Barat Tahun 2026 yang berlangsung di Kota Bandung, Rabu (12/8/2026).
- Tak Perlu Putar Jalan Berjam-jam, Warga Kuningan Kini Nikmati Jembatan Garuda dan Air Bersih
- Wisuda ke-34 Uniku Cetak 1.128 Lulusan, Bupati Kuningan: Jangan Cuma Cari Kerja!
- Geger Polemik Izin RS Permata Kuningan: Eks Kapolsek Diduga Persekusi Aktivis, Rekaman CCTV Diminta Disita
- Buka Konferprov PWI Jabar, Wali Kota Bandung Farhan Minta Jurnalis Dekonstruksi Kerja Jurnalistik di Era Digital
- Api Masih Berkobar di TPSA Ciniru Kuningan, Ancaman Overkapasitas 2027 Jadi Sorotan Utama
Acara ini turut dihadiri Ketua DPRD Kota Bandung Asep Mulyadi dan Ketua DPRD Pokja Ruki.Farhan menyoroti pergeseran mendasar dalam dunia informasi, di mana kemajuan teknologi membuat batas antara jurnalis profesional dan masyarakat umum semakin kabur.
Menurutnya, tantangan terbesar media saat ini bukan lagi sekadar kecepatan, melainkan aspek tanggung jawab moral dan etika.”Sekarang di era digital tantangannya sangat berat, proses jurnalistik dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Orang bisa jadi jurnalis dengan sendirinya. Pertanyaannya, apakah karya tersebut bisa dipertanggungjawabkan atau tidak? Nah, itu yang harus diolah,” ujar Farhan.
Di tengah gempuran arus informasi yang masif dan sering kali tidak terverifikasi, Farhan menegaskan komitmen serta kepercayaannya yang tidak goyah terhadap marwah jurnalisme. Bagi Farhan, profesi wartawan tidak akan pernah tergantikan selama tetap memegang teguh kaidah keilmuan.
“Saya adalah orang yang sangat percaya pada jurnalisme. Jurnalisme adalah sebuah ilmu yang didukung oleh profesi, yang menjadi salah satu pilar kekuatan demokrasi di Indonesia,” ujar Farhan.
Oleh karena itu, Farhan mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai wadah induk organisasi profesi untuk mengambil peran sentral dalam menjaga benteng kualitas tersebut. Ia berharap momentum Konferprov PWI Jabar 2026—yang mempertemukan dua calon ketua, H. Hardiyansyah dan Tantan Sulthon Bukhawan—dapat melahirkan kepemimpinan yang mampu meningkatkan kembali kapasitas para wartawan.
“Konferensi ini harus bisa melahirkan kepemimpinan PWI Jawa Barat yang solid, yang bisa mempertahankan dan meningkatkan kembali jurnalisme yang sehat, kredibel, serta bermartabat untuk Jawa Barat,” kata Walikota Bandung. (Nars)



