KUNINGAN – Pasca kejadian longsor yang terjadi di jalur menuju kawasan wisata Lembah Cilengkrang, Desa Pajambon, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, sejumlah pihak langsung turun ke lokasi kejadian. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kuningan bersama Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan manajemen Arunika melakukan peninjauan lapangan pada Kamis (15/5/2025).
- Penentuan Posisi! 3 Calon Ketua DPC PKB Kuningan Jalani UKK Hari Ini
- Tega Buang Anak ke Sungai, Pelarian Janda Muda di Kuningan Berakhir Diamankan Polisi
- Rakyat Gigit Jari, Di Tengah Gaung Efisiensi Anggaran, DPRD Kuningan Gelar Bimtek Miliaran Rupiah
- Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan
- Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2
Informasi ini disampaikan melalui akun resmi Instagram @dpmptsp_kuningan pada Jumat (16/5/2025). Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi jalur perairan dan jalur hiking di kawasan wisata Lembah Cilengkrang yang mengalami kerusakan pasca-longsor.
“Kerusakan ini diduga dipicu oleh rusaknya penampungan air hujan yang mengalir deras ke area lereng, hingga berdampak pada jalur air dan lintasan hiking,” demikian pernyataan dalam unggahan tersebut.
Lembah Cilengkrang sendiri merupakan destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Kuningan yang banyak dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah.
Namun, pasca peristiwa longsor yang terjadi pada Rabu (14/5/2025), warganet menyoroti berbagai faktor penyebab bencana, termasuk pembangunan masif di wilayah atas lembah.
Sejumlah komentar warganet di media sosial menuding bahwa aktivitas pembangunan kawasan wisata Arunika Palutungan di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, turut berkontribusi terhadap bencana longsor.


Nama objek wisata Arunika pun ramai disebut-sebut sebagai salah satu pemicu terganggunya ekosistem di kawasan bawah. Pemerhati lingkungan Kuningan, Avo Juhartono, dalam unggahan akun Instagram @avowae, turut mengkritisi pembangunan Arunika Eatery yang dinilai melampaui kapasitas daya dukung lingkungan.
“Tebing utara Arunika Eatery sudah dua kali longsor ke arah kawasan wisata Lembah Cilengkrang. Perlu ada kajian ulang terhadap daya dukung lingkungan Arunika, baik dari sisi pembangunan maupun aktivitas manusianya, sebelum terjadi bencana yang lebih besar,” tulis Avo.


Sementara itu, hingga berita ini ditulis, pihak Arunika Eatery belum memberikan pernyataan resmi menanggapi tudingan tersebut. Tim redaksi telah mencoba menghubungi pemilik Arunika melalui saluran percakapan WhatsApp pada Jumat (16/5/2025), namun belum mendapat jawaban.
Sementara, Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar dalam pernyataannya, menyebutkan pembangunan kawasan wisata di kaki gunung Ciremai jangan sampai mengesampingkan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan. (Nars)

























