KUNINGAN – Menjelang Hari Raya Idulfitri, para pengrajin anyaman ketupat di Desa Winduhaji, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mulai kewalahan memenuhi lonjakan pesanan. Banyaknya permintaan dari masyarakat yang ingin menyajikan hidangan khas Lebaran ini membuat mereka harus bekerja siang dan malam untuk memenuhi target produksi.
- Korakap Janji “Aksi 1000 CD”, Demo Celana Dalam di Depan Pendopo Kuningan Tak Dihadiri Bupati
- Berkaca dari Ajax dan Feyenoord, Tina Wiryawati Soroti Pentingnya Ekosistem Sepak Bola Usia Dini
- Respon Cepat Keluhan Warga, Anggota DPRD Jabar Tina Wiryawati Bantu Operasional Alat Berat Hingga Rutilahu di Cigadung
- Menyambut Tahun Baru Islam, Umat Islam Diimbau Perkuat Refleksi Lewat Doa Akhir dan Awal Tahun
- Masih Banyak Kendala Sistem Zonasi PMB di Jabar, Legislator Gerindra Minta Pendidikan Tidak Dijadikan Ajang Coba-Coba
Salah satu pengrajin ketupat di Kelurahan Winduhaji, Eli, mengungkapkan peningkatan produksi sudah terasa sejak sepekan terakhir. Jika pada hari biasa mereka hanya menghasilkan sekitar 100 hingga 200 anyaman ketupat per hari, maka dalam tujuh hari menjelang Lebaran, jumlahnya melonjak drastis hingga mencapai 500 ketupat per hari.
“Setiap hari pesanan terus bertambah, jadi kami harus bekerja lebih keras agar semua bisa terpenuhi. Biasanya, pelanggan kami adalah pedagang atau pengusaha makanan berbasis ketupat,” ujar Eli.


Meski terlihat sederhana, proses menganyam ketupat ternyata membutuhkan keahlian khusus. Tidak semua jenis daun kelapa bisa digunakan, dan teknik anyaman pun harus tepat agar ketupat tidak mudah rusak saat digunakan untuk memasak. Keahlian ini telah diwariskan turun-temurun, menjadikan Winduhaji sebagai sentra produksi ketupat yang dikenal hingga luar daerah.
Anggota DPRD Kuningan, Sri Laelasari, yang juga tokoh masyarakat setempat, membenarkan bahwa Winduhaji sejak lama dikenal sebagai pusat produksi ketupat di Kuningan. Ia juga menegaskan pentingnya dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk para pengrajin ketupat yang telah menjadi bagian dari tradisi dan ekonomi lokal.
“Ketupat Winduhaji sudah punya ciri khas tersendiri. Banyak pelanggan dari luar daerah yang datang ke sini karena kualitasnya. Kami di DPRD Kuningan tentu berkomitmen untuk terus mendukung para pelaku UMKM agar usaha mereka semakin berkembang,” ujar Sri.
Sebagai pengrajin, Eli dan rekan-rekannya mendapatkan upah sebesar Rp2.500 untuk setiap 100 ketupat yang mereka buat. Meski hasilnya tidak terlalu besar, mereka tetap menjalankan usaha ini dengan penuh dedikasi, terutama saat momentum Lebaran yang selalu membawa berkah tersendiri bagi mereka. (Nars)















