KHAZANAH – Amarah yang tak terkendali seringkali memicu keluarnya kata-kata kasar yang berujung penyesalan panjang. Menanggapi fenomena psikologis ini, pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) memberikan peringatan keras agar setiap orang pandai menahan lisannya saat emosi sedang memuncak.
Dalam sebuah cuplikan ceramahnya, ulama asal Asahan, Sumatera Utara ini mengibaratkan kata-kata kasar yang telanjur keluar saat marah layaknya sebuah peristiwa gaib yang disaksikan Nabi Muhammad SAW kala peristiwa agung Isra Mi’raj.
- Tak Hanya Peduli Gunung, KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning Bersihkan Eceng Gondok Waduk Darma
- Tunjangan DPRD Kuningan Dipangkas demi Efisiensi Anggaran, Sekwan: Tidak Ada Ruang Gelap
- Segini Besaran Tunjangan Perumahan dan Transportasi DPRD Kuningan Berdasarkan Kajian KJPP
- Buka Bukaan Tunjangan DPRD Kuningan, Sekwan Dorong Transparansi di Tengah Tuntutan Efisiensi Fiskal Daerah
- Ujang Kosasih “Bintang Lima” Pimpin PKB Kuningan Lagi, Sekjen Baru Aras Rasdi Usia 35 Tahun
“Kalau lagi marah jangan keluarkan kata-kata. Karena itu sama seperti sapi yang keluar dari lubang kecil waktu Nabi Isra Mi’raj. Ketika sudah keluar, dia enggak bisa masuk lagi,” tegas UAS mengawali penjelasannya.
UAS menyarankan metode sederhana namun efektif untuk meredam amarah yang siap meledak. Alih-alih melontarkan sumpah serapah yang menyakiti hati orang lain, ia menganjurkan agar seseorang segera mencari pelampiasan fisik yang menenangkan.
“Lebih baik tahan. Kalau kebetulan di situ ada minuman, minum. Ada es krim, habiskan. Jangan sampai ngomong sumpah serapah,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa meskipun emosi seseorang pada akhirnya akan mereda, luka batin akibat ucapan kasar akan membekas selamanya. Mengutip pepatah lawas yang sarat makna, UAS menggambarkan betapa berbahayanya lisan yang tak dijaga.
”Nanti hatinya dingin, emosinya turun, kata-katanya tidak bisa hilang. Kaca retak bisa direkat, galah patah bisa disambung, hati yang pecah ke mana obat akan dicari?” tuturnya puitis.
Dalam kesehariannya, ulama yang kerap tampil berapi-api di atas mimbar berkat dukungan sound system ini mengaku punya cara sendiri untuk menahan emosi di kehidupan nyata.
Di balik suaranya yang lantang saat berdakwah, UAS memilih untuk diam dan memperbanyak zikir ketika sedang diuji oleh kemarahan.”Kalau saya sedang marah, saya tahan. Astaghfirullah, astaghfirullah. Afdholu dzikri fa’lam annahu la ilaha illallah,” ungkapnya memberikan contoh amalan.
UAS menganalogikan besarnya daya rusak sebuah amarah yang diluapkan secara serampangan tak ubahnya seperti ledakan bom atom dalam sejarah dunia.
“Karena kalau sampai keluar ini meledak, maka hancurlah Hiroshima dan Nagasaki. Rumput pun tidak akan tumbuh lagi,” ujar UAS memperingatkan dampaknya yang menghancurkan.
Di akhir penjelasannya, ulama lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini memberikan catatan khusus terkait interaksi dengan kaum hawa. Ia mengingatkan para suami bahwa perempuan memiliki daya ingat emosional yang jauh lebih tajam dan permanen dibandingkan laki-laki.
Jangankan kata-kata kasar yang menyayat hati, perbuatan sepele pun bisa melekat kuat dalam ingatan seorang istri hingga ia memasuki usia senja.”Ingat, perempuan daya ingatnya jauh lebih kuat daripada laki-laki. Sekali kata-kata keluar, jangankan kata-kata, perbuatan aja (akan selalu diingat),” jelasnya.
Sebagai contoh ringan, UAS menceritakan momen ketika seorang suami berbuat baik kepada perempuan lain di jalan raya—seperti memberi jalan saat menyeberang atau membantu memungut barang yang jatuh.
Kebaikan kecil itu, menurut UAS, akan selalu diingat oleh sang istri sebagai sebuah momen cemburu yang abadi.”Itu sampai nenek-nenek dia ingat. Sampai sudah tua beruban, istrinya sudah miring duduknya, dia bakal ingat kejadian itu sampai mati,” canda UAS mencontohkan realita rumah tangga.
Oleh karena itu, menjaga lisan saat emosi bukan sekadar anjuran moral belaka, melainkan kunci utama untuk merawat keutuhan, kedamaian, dan kewarasan dalam berumah tangga. (Nars/ sumber: Kanal YouTube Ustadz Abdul Shomad Official)




















