Kuningan

Telur Busuk hingga Porsi Miris! Menu MBG Ramadhan Kuningan Banjir Keluhan, Warganet: SPPG Untung Banyak‎‎

KUNINGAN – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari pertama masuk sekolah di bulan suci Ramadhan di Kabupaten Kuningan panen sorotan tajam. Alih-alih mendapatkan asupan nutrisi yang layak, para siswa justru disuguhi menu yang jauh dari ekspektasi.

Warganet pun meradang dan menuding sejumlah Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) sengaja meraup untung besar dengan menyunat kualitas makanan.‎‎

Keluhan terkait buruknya menu MBG Ramadhan Kuningan ini mencuat setelah para pelajar mulai menerima kembali distribusi makanan pasca-libur awal puasa. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah SPPG dinilai keterlaluan dalam menyajikan menu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.‎‎

Kasus paling parah terjadi pada distribusi dari SPPG Bandorasawetan 2. Orang tua siswa dibuat geram lantaran menemukan menu telur puyuh yang sudah mengeluarkan bau tak sedap.‎‎”Telurnya bau busuk, kayak yang udah direbus dua minggu,” keluh salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Akibat temuan fatal tersebut, para orang tua penerima manfaat kompak tidak memberikan sajian MBG itu kepada anak-anak mereka karena khawatir keracunan.‎‎

Selasa Besok PLN ULP Kuningan Lakukan Pemeliharaan Jaringan di Kuningan Timur, Ini Lokasinya

Tak hanya soal makanan diduga basi, keluhan soal porsi yang miris juga terjadi di Kecamatan Garawangi. Seorang warga membeberkan bahwa jatah menu keringan MBG untuk alokasi tiga hari dinilai sangat tidak masuk akal dan ‘alakadarnya’.‎‎

Dalam paket untuk tiga hari tersebut, siswa hanya menerima: 1 botol susu, 2 buah roti, 1 buah pir, 10 butir kurma, 2 butir telur ayam, dan 1 bungkus kecil kentang goreng. Porsi ini berbanding terbalik dan terlihat sangat timpang jika dikomparasikan dengan paket dari SPPG di wilayah lain yang menu tiga harinya jauh lebih melimpah.‎‎

Merespons adanya protes masyarakat terkait carut-marutnya menu MBG di Kuningan, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPI Kabupaten Kuningan, Nisa Rahmi, akhirnya angkat bicara.‎‎

Terkait insiden telur puyuh busuk di Bandorasawetan, Nisa mengaku telah melakukan kroscek langsung ke Kepala SPPG yang bersangkutan.‎‎”Kemungkinan karena proses perebusan yang terlalu awal. Infonya tadi Kepala SPPG sudah menghubungi pihak sekolah, dan pengganti menu akan langsung diberikan besok (Selasa),” jelas Nisa mengklarifikasi, Senin (23/2).‎‎

Lebih lanjut, Nisa menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika ada SPPG yang terbukti nakal atau bermain curang. Meski demikian, ia memaparkan bahwa kewenangan penutupan atau pencabutan izin operasional SPPG berada penuh di tangan pusat, yakni melalui Badan Gizi Nasional (BGN).‎‎

Meriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Cirebon, Kuningan Usung Eksotisme Tradisi Kawin Cai

“Penutupan SPPG yang nakal itu dilakukan oleh pusat melalui Surat Penghentian Operasional Sementara yang dikeluarkan oleh Tauwas BGN. Sejauh ini, jika ada temuan ketidaksesuaian di lapangan, sifatnya kami melaporkan dan mem-follow up keputusannya ke pusat,” tegasnya.

‎‎Nisa menambahkan, proses penindakan dilakukan secara berjenjang. Jika ada temuan dari tingkat kecamatan, Satgas MBG Kabupaten akan menindaklanjutinya dengan melakukan investigasi.‎‎”Apabila dinilai perlu, Satgas Kabupaten akan mengeluarkan surat rekomendasi penutupan ke pusat. Jika disetujui, pusat akan merespons dengan menerbitkan surat penghentian operasional sementara tersebut,” jelas Nisa.‎‎

Ke depan, masyarakat berharap pengawasan terhadap program andalan pemerintah ini bisa lebih diperketat agar tidak ada lagi oknum SPPG yang mencari celah keuntungan di atas hak gizi anak-anak Kuningan. (Nars)‎

× Advertisement
× Advertisement