KUNINGAN, – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan yang menunjukkan tren positif belakangan ini dinilai tidak lepas dari peran sentral Program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) Kabupaten Kuningan bahkan menyebut program inisiasi Presiden Prabowo Subianto itu sebagai salah satu motor penggerak utama yang memberikan ‘nyawa baru’ bagi perekonomian di tingkat akar rumput.
- Lawan Fluktuasi Harga Pasar, Emak-Emak Kuningan Sulap Pekarangan Jadi ‘Supermarket’ Hidup
- Kalahkan Kota Bandung, Promosi Digital Disporapar Kuningan Sabet Predikat Terbaik se-Jabar di SWJ Award
- Bupati Mangkir Temui Massa, HMI Kuningan Ancam Kepung Pemda dalam Aksi Jilid Dua
- Survei Poltracking Tempatkan Elektabilitas PKB di Posisi Keempat Nasional, DPC Kuningan Tegaskan Komitmen Layani Masyarakat
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
Ketua HPN Kabupaten Kuningan, H. Udin Kusnedi, menyatakan bahwa program MBG telah sukses menciptakan perputaran uang yang masif di sektor riil, yang dampaknya langsung dirasakan oleh pengusaha kecil dan masyarakat pedesaan.
“Kami di HPN melihat ini sebagai stimulus fiskal yang sangat efektif. Program MBG ini bukan sekadar program sosial, tapi sebuah intervensi ekonomi yang cerdas dan langsung menyentuh denyut nadi perekonomian lokal,” ujar H. Udin Kusnedi saat dimintai pandangannya, di Jalaksana, Selasa (4/11/2025).
Menurutnya, multiplier effect atau efek ganda dari program ini sangat besar. Anggaran yang digelontorkan untuk program tersebut dipastikan berputar di dalam daerah, tidak ‘lari’ ke luar, sehingga menghidupkan ekosistem bisnis lokal.
Udin menjelaskan, dampak paling signifikan terlihat pada bergeraknya sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor pertanian.
“Program ini telah melahirkan ratusan ‘pengusaha’ baru di level dapur. Para petani dan pedagang bahan baku di desa-desa juga kini hidup kembali. Mereka mendapat kepastian order setiap hari,” paparnya.
Pergerakan di sektor hilir (Dapur) ini, lanjutnya, secara otomatis menarik gerbong di sektor hulu, yakni pertanian.”Para pengelola dapur MBG ini wajib menyerap bahan baku dari sumber lokal. Ini yang luar biasa. Tiba-tiba, petani sayur, peternak ayam, susu, ayam petelur, dan petani beras di Kuningan mendapatkan pembeli pasti (off-taker) yang jelas,” tegas H. Udin.
Kebutuhan sayuran saja untuk menu MBG ini per bulan, imbuh Udin, sudah mencapai 16 ton. Ini terdiri dari bermacam-macam jenis sayuran, mulai yang masa tanamnya pendek seperti Pakcoy dan masa tanamnya panjang seperti wortel dan kentang.
Ia menambahkan, hal ini menciptakan kepastian pasar bagi petani dan memberikan stabilitas pendapatan, yang selama ini menjadi masalah klasik di sektor pertanian.
“Bayangkan, setiap hari dibutuhkan ribuan porsi telur, daging ayam, dan sayuran. Semua itu diserap dari pasar-pasar dan petani lokal kita. Perputaran uangnya nyata, dari pemerintah, ke pengelola dapur, lalu ke petani,” sebut Udin.
























