Insiden Kuningan Lingkungan Pemerintahan

Sehari 40 Ton! Terungkap Wilayah Penyumbang Sampah Terbanyak ke TPA Ciniru Kuningan

KUNINGAN – Di balik bayang-bayang ancaman darurat sampah yang kian nyata di Kabupaten Kuningan, terungkap sebuah fakta mengejutkan mengenai wilayah penyumbang sampah terbanyak ke TPA Ciniru. Bukan sekadar kawasan pusat perkotaan, Kecamatan Ciawigebang justru tercatat sebagai ‘juara’ penghasil limbah dengan volume yang mencapai angka fantastis, yakni 40 ton per hari.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, Andi, membeberkan bahwa tingginya jumlah penduduk sangat berbanding lurus dengan produksi limbah harian. Dari total potensi 495 ton sampah se-Kabupaten Kuningan setiap harinya, sebanyak 260 ton di antaranya bermuara langsung dan menumpuk di TPA Ciniru.

“Kalau kita lihat dari kepadatan penduduk, Ciawigebang itu menjadi wilayah penyumbang sampah terbanyak dengan hampir 40 ton per harinya. Kemudian disusul oleh kawasan perkotaan di wilayah Kecamatan Kuningan. Mayoritas pasokan ini memang didominasi oleh limbah rumah tangga, jauh lebih besar dibandingkan sektor hotel atau restoran,” papar Andi saat memberikan keterangan, Kamis (12/3).

Masifnya pasokan limbah harian dari wilayah-wilayah penyumbang sampah terbanyak ini membuat kondisi TPA Ciniru kini berstatus sangat kritis. Usia pakai tempat pembuangan akhir tersebut diprediksi tinggal menyisakan waktu satu tahun lagi sebelum benar-benar overload atau penuh total.

Menghadapi ‘bom waktu’ darurat sampah ini, Pemkab Kuningan menyiapkan langkah penyelamatan berskala besar. Andi menegaskan, arah kebijakan ke depan akan diubah drastis dari konsep lawas “kumpul-angkut-buang” menjadi sistem pengolahan berskala industri. Rencana utamanya adalah membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kompleks TPA Ciniru.

Lawan Fluktuasi Harga Pasar, Emak-Emak Kuningan Sulap Pekarangan Jadi ‘Supermarket’ Hidup

“TPST ini nantinya tidak lagi menumpuk sampah, melainkan mengolah semua yang masuk menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Produk RDF ini bernilai ekonomis tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara oleh pabrik-pabrik semen,” jelasnya.

Jika fasilitas di TPA Ciniru ini terwujud, TPST ditargetkan mampu melahap lebih dari 200 ton atau menyerap sekitar 80 persen dari total sampah harian yang masuk. Namun, untuk menanggulangi sisa ratusan ton limbah dari daerah penyumbang sampah terbanyak lainnya, DLH merancang sistem desentralisasi.

Pemerintah daerah akan membangun TPST 3R Plus di setiap tingkat eks-kewedanan agar beban pengolahan tidak tertumpuk di satu titik sentral.Mengingat proyek pengolahan limbah ini menelan anggaran fantastis, Pemkab Kuningan tidak hanya bergantung pada kas APBD.

Andi menyebutkan, proposal bantuan dana dan infrastruktur telah diajukan secara maraton ke pemerintah pusat, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian PUPR, hingga Kementerian Dalam Negeri.

“Tahun ini pengajuan TPST RDF ke Bina Bangda Kemendagri sudah menunjukkan sinyal positif. Harapan kami, saat TPA Ciniru resmi penuh tahun depan, fasilitas pengolahan ini sudah terealisasi. Sehingga kelak, Kuningan tidak akan membutuhkan TPA lagi karena semua sampah sudah habis terolah sejak dari sumbernya,” sebutnya. (Nars)

Kalahkan Kota Bandung, Promosi Digital Disporapar Kuningan Sabet Predikat Terbaik se-Jabar di SWJ Award

× Advertisement
× Advertisement