Artikel Khazanah Ramadhan

UAS Ungkap Tanda Pasti Lailatul Qadar dan Aturan Bawa Anak ke Masjid

KHAZANAH – Penceramah kondang, Ustadz Abdush Shomad (UAS), membagikan penjelasan mendalam terkait tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar serta pandangan Islam mengenai hukum membawa anak kecil ke masjid. Dalam tausiahnya, beliau menekankan bahwa esensi ibadah harus tercermin melalui perubahan akhlak dan persiapan estafet generasi pemakmur masjid di masa depan.

Jauhi Perbuatan Setan untuk Meraih Ketakwaan

Mengawali kajiannya, UAS mengingatkan para jamaah untuk menjauhi segala perbuatan najis yang disukai setan, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 90. Berbagai perbuatan seperti mengonsumsi minuman keras (khamar), narkoba, berjudi, hingga mengundi nasib wajib ditinggalkan secara mutlak.

Menurut UAS, meninggalkan larangan-larangan tersebut adalah kunci agar umat Islam senantiasa berada di jalan kemenangan dan ketakwaan yang sejati.

Sinar Redup dan Perubahan Akhlak sebagai Tanda Lailatul Qadar

Saat menjawab pertanyaan jamaah soal tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar, UAS memaparkan bahwa salah satu tanda utamanya adalah hadirnya rasa tenang (sakinah) di dalam hati yang murni bersumber dari Allah SWT.

Secara fisik, fenomena alam pada pagi hari setelah malam Lailatul Qadar biasanya ditandai dengan sinar matahari yang terbit tampak lebih redup. UAS menjelaskan fenomena ini terjadi karena malaikat yang tercipta dari cahaya sedang berbondong-bondong naik kembali ke langit setelah turun memadati bumi pada malam tersebut, sehingga cahaya mereka mengalahkan teriknya matahari.

Waspada Pejabat Pesanan di Manajemen Talenta, Bupati Kuningan Diminta tak Ragu Sikat “Trouble Maker”

Namun, UAS berpesan agar umat Islam tidak semata-mata berpatokan pada kondisi cuaca. Merujuk pada pemaparan Tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT sengaja merahasiakan siapa saja yang berhasil meraih malam Lailatul Qadar, taubat nasuha, dan haji mabrur agar hamba-Nya senantiasa berharap dan tidak berhenti berikhtiar.

“Tanda pasti dari didapatkannya Lailatul Qadar adalah adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik setelah Ramadan. Misalnya, yang sebelumnya mudah marah menjadi lebih sabar, atau yang tadinya bakhil (pelit) berubah menjadi dermawan,” urai UAS.

Masa Depan Masjid Ada pada Kehadiran Anak-anak

Mengenai hukum membawa anak kecil ke masjid yang kerap menjadi perdebatan, UAS mencontohkan sikap teladan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah tidak pernah memarahi atau melarang cucu beliau, Hasan dan Husain, meski mereka menaiki punggungnya saat sujud maupun ketika Nabi sedang berada di atas mimbar khutbah.

UAS menegaskan bahwa keberadaan anak kecil yang sesekali berlarian atau menangis di masjid justru merupakan pertanda baik bagi kelangsungan syiar Islam. “Dua puluh tahun yang akan datang, anak-anak inilah yang akan terus menggemakan takbir di masjid. Kalau di masjid sudah tidak ada lagi anak kecil, alamat masjid itu ke depannya hanya akan diisi oleh orang tua yang tinggal menunggu malaikat maut,” tegasnya.

Meski sangat dianjurkan untuk mengenalkan masjid sejak dini, UAS menggarisbawahi adanya syarat dan ketentuan (adab) yang wajib diperhatikan para orang tua. Anak yang dibawa ke masjid idealnya sudah masuk usia mumayyiz, yakni bisa memahami arahan dan merespons ketika ditegur.

Persiapan Final, Jemaah Calon Haji Kuningan Kloter Pertama Dilepas Besok, Pengantar Diimbau ‘Sasalaman’ di Rumah

Selain itu, orang tua wajib menjaga kebersihan anak dari potensi najis (seperti memastikan popok yang dipakai bersih dan tidak bocor), serta mengarahkan anak-anak untuk berada di posisi shaf (barisan) khusus di belakang agar tidak memutus shaf jamaah dewasa. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement