Artikel Kuningan Ragam

527 Tahun Kuningan, dari Kerajaan Hindu Hingga Pusat Peradaban Islam

KUNINGAN – Kuningan, sebuah kabupaten di Jawa Barat yang terkenal dengan keindahan alamnya, ternyata menyimpan sejarah yang kaya dan dinamis. Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata dengan Gunung Ciremai, Kuningan pernah menjadi pusat peradaban yang berkuasa, bahkan menyandang status kerajaan.

Sejarah panjangnya diwarnai oleh kepemimpinan raja-raja yang kuat, penyebaran agama secara damai, hingga penetapan hari jadi yang masih diperingati hingga kini.Sejarah awal Kuningan merujuk pada masa lampau ketika daerah ini dikenal sebagai sebuah pemukiman yang memiliki kekuatan politik setara negara.

Berdasarkan Carita Parahyangan, sosok penting yang menandai berdirinya Kerajaan Kuningan adalah Seuweukarma. Ia diangkat menjadi raja dengan gelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku, yang berkedudukan di Arile atau Saunggalah.Di bawah kepemimpinannya, Kuningan berkembang pesat hingga wilayahnya meluas ke negeri Melayu. Seuweukarma dikenal sebagai pemimpin yang taat pada ajaran Dangiang Kuning dan memegang teguh Sanghiyang Dharma (kitab suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup).

Masa pemerintahannya dicatat sebagai periode kemakmuran dan ketenteraman bagi rakyat.Setelah kepemimpinan Seuweukarma, Kuningan dipimpin oleh tiga penguasa yang dikenal sebagai triumvirat, yaitu Sang Wulan, Sang Tumanggal, dan Sang Pandawa. Mereka mengadopsi konsep Tritangtu Sunda Buhun, di mana Sang Rama memimpin adat, Sang Resi memimpin agama, dan Sang Ratu memimpin pemerintahan.

Kolaborasi harmonis ini membawa Kerajaan Kuningan pada puncak kemakmuran, di mana tata hukum dan adat berjalan konsisten, urusan keagamaan terpelihara, dan pemerintahan berjalan seimbang.Puncak kejayaan Kuningan tercapai di bawah kepemimpinan Resiguru Demunawan, menantu Sang Pandawa.

Ancaman Puso Menghantui! Lesehan di Sawah, Kadiskatan Kuningan Ajarkan Trik ‘Sakti’ Basmi Hama Wereng

Ia berhasil menjadikan Kuningan sebagai kerajaan agama (Hindu) yang termasyhur, bahkan disejajarkan dengan kebesaran Kerajaan Galuh dan Sunda (Pakuan). Resiguru Demunawan merupakan salah satu dari tiga raja di Jawa Barat yang menyandang gelar Rajaresi, yaitu pemimpin pemerintahan sekaligus ahli agama.

Ilustrasi Pangeran Aria Kamuning dan Sunan Gunung Jati sebagai tokoh berpengaruh pada sejarah Kuningan (KR)

Wilayah kekuasaannya pun mencakup area yang sangat luas, termasuk Melayu, Tuntang, dan Balitar.Masa kejayaan Kuningan sebagai kerajaan Hindu sempat terhenti hingga tahun 1175 M, saat Rakean Darmariksa kembali memimpin sebagai daerah otonom di bawah Kerajaan Sunda (Pajajaran).

Namun, babak baru dalam sejarah Kuningan dimulai pada abad ke-15 dengan masuknya agama Islam.Perjalanan Islam di Kuningan tidak lepas dari peran penting Syekh Syarif Hidayatullah, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Pada tahun 1481 M, Syekh Syarif Hidayatullah tiba di Luragung, Kuningan, untuk menyebarkan ajaran Islam secara damai. Ia berhasil mengislamkan Ki Gedeng Luragung, penguasa setempat. Kisah ini juga melibatkan kedatangan Ratu Ontin Nio dari Cina, yang melahirkan Pangeran Kuningan.

Persib Ditempel Ketat Borneo FC, Ini Hitungan Peluang Juara dan Jadwal Sisa Laga

Peran Syekh Syarif Hidayatullah sangat vital dalam transisi Kuningan. Ia menitipkan Pangeran Kuningan kecil untuk diasuh oleh Ki Gendeng Kuningan, sementara putra Ki Gendeng, Amung Gegetuning Ati, diberi nama baru Pangeran Arya Kamuning. Syekh Syarif Hidayatullah berpesan bahwa kelak Pangeran Kuningan akan menjadi adipati.

Amanat tersebut terwujud pada 1 Muharam 904 H (1 September 1498 M). Pangeran Kuningan dilantik sebagai kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan, dibantu oleh Pangeran Arya Kamuning. Momen bersejarah ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan.

Proses transisi ke Islam juga diperkuat melalui pernikahan damai. Contohnya, Syekh Maulana Arifin, putra Syekh Maulana Akbar, menikahi Nyai Ratu Selawati, penguasa Kuningan saat itu. Perkawinan ini menjadi simbol perdamaian dan peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam. Perkembangan Islam di Kuningan terus berlanjut dengan berdirinya berbagai pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna, yang menjadi pusat-pusat peradaban baru.

Hingga kini, jejak sejarah yang kaya ini terus mengalir dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Kuningan. (UN)

Kunci Ketinggalan, 50 Menit Damkar Kuningan Berjibaku Buka Pintu Mobil Warga

× Advertisement
× Advertisement