BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menepati janjinya untuk membereskan carut-marut pengelolaan air di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
- Rakyat Gigit Jari, Di Tengah Gaung Efisiensi Anggaran, DPRD Kuningan Gelar Bimtek Miliaran Rupiah
- Seleksi Calon Kadis Hanya Diikuti 67 Pejabat Eselon III, Pengamat Soroti Sistem Data Manajemen Talenta BKPSDM Kuningan
- Diwarnai Kartu Merah, Persib Bandung Susah Payah Tahan Imbang Dewa United 2-2
- Bidik Pasar Global, Kuningan Siapkan Diri Jadi Pemain Kopi Kualitas Dunia
- Demo Warga Kalimanggis Kulon Berbuah Hasil, Kades Wahidi Dipastikan Tak Ngantor Lagi Mulai Besok
Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) yang digelar di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (27/1), KDM mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menghentikan komersialisasi air yang merusak alam.
KDM menegaskan tata kelola air Ciremai harus dikembalikan pada filosofi dasarnya: rakyat adalah prioritas utama. Ia menggarisbawahi hierarki penggunaan air yang tidak boleh ditawar.
”Prioritas pertama adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat, kedua untuk sektor pertanian. Komersialisasi yang merusak alam harus dihentikan, apalagi yang menggunakan mesin sedot, itu dilarang keras,” tegas KDM dalam arahannya, seperti yang diungkapkan Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar usai pertemuan.
Dian juga menyampaikan, Gubernur juga menyoroti maraknya pipa-pipa ilegal yang melintang di kawasan konservasi. KDM memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap jalur pipa tersebut. Izin yang tertulis di atas kertas harus sesuai dengan realisasi fisik di lapangan.
Jika ditemukan ketidaksesuaian, tindakan tegas harus diambil tanpa pandang bulu.”Jangan sampai aturan dilabrak. Balai TNGC dan Kementerian harus turun tangan menyelesaikan ini. Jika dibiarkan, kerusakan hutan akan semakin parah dan rakyat yang menderita,” instruksi Gubernur.
Sebagai bentuk dukungan konkret, KDM menjanjikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memperbaiki seluruh akses jalan di kawasan tersebut, sembari meminta area-area kosong di kaki gunung segera ditanami kembali untuk menjaga daerah tangkapan air. (Nars)

























