Lingkungan Bencana Kuningan

‎Bantah Klaim Lahan Tandus, Pemerhati Lingkungan: Maaf Arunika, Itu Kebun Sayur Sejak ‘Baheula’‎‎

KUNINGAN – Narasi “sukses menghijaukan lahan tandus” yang dibangun oleh manajemen kawasan wisata Arunika melalui perbandingan citra satelit 2015-2025, mendapat respons menohok dari pegiat lingkungan.

Pemerhati lingkungan Kabupaten Kuningan, Avo Juhartono, secara terbuka meluruskan klaim yang menyebut kawasan lereng Gunung Ciremai tersebut dulunya hanyalah lahan kering tak bertuan.‎‎

Melalui pernyataan resminya di media sosial, Avo menyanggah interpretasi pihak Puspita Cipta Grup (pengelola Arunika) yang menyebut lahan sebelum pembangunan adalah area gersang. Avo menegaskan, fakta sejarah di lapangan menunjukkan hal yang bertolak belakang.‎‎

“Maaf Pak Mukhlis (Perwakilan Puspita Cipta), semua area itu bukan lahan tandus. Tapi itu merupakan lahan pertanian sayuran yang ada sejak jaman *baheula* (dahulu kala),” tegas Avo, menanggapi publikasi citra satelit tersebut.‎‎

Avo mengakui bahwa Arunika memang telah melakukan transformasi fisik yang masif di kawasan Palutungan. Berdasarkan amatannya, setidaknya ada sekitar 8 hektare lahan yang kini berubah menjadi Arunika Eatery dan kurang lebih 20 hektare lainnya untuk pengembangan kawasan wisata.‎‎

Wakil Bupati Kuningan Dorong Sinergi Pembangunan dan Sukseskan PTSL dalam Konsolidasi APDESI Merah Putih

Namun, ia merasa perlu meluruskan sejarah ekologis kawasan tersebut. Bagi Avo, menyebut area produktif yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan pertanian warga sebagai “lahan kosong” atau “tadah hujan tak tertata” adalah sebuah kekeliruan narasi.‎‎

“Terima kasih Arunika sudah melakukan transformasi besar. Tapi maaf, itu lahan pertanian,” sentilnya lagi.

‎‎Sebelumnya, polemik ini bermula ketika pihak Arunika merilis perbandingan citra satelit tahun 2015 dan 2025. Mukhlis, perwakilan Puspita Cipta Grup, mengklaim bahwa pada 2015 kawasan tersebut didominasi lahan tadah hujan dan area kering tanpa pepohonan besar.‎‎

Mukhlis menyebut perubahan di tahun 2025 sebagai keberhasilan konservasi, di mana kawasan yang dulunya dianggap gersang kini menjadi hijau rimbun berkat penanaman pohon endemik dan pembangunan area wisata.

Ia bahkan menekankan adanya area pembibitan khusus sebagai bentuk kepedulian terhadap erosi dan longsor. ‎‎”Area ini dikelola sebagai bentuk kepedulian terhadap konservasi lingkungan. Penanaman telah dilakukan beberapa tahun ke belakang,” ujar Mukhlis, Kamis (11/12/2025).‎‎

Punya Sertifikat! Tembakau Kuningan Naik Kelas, Tak Bisa Lagi Diklaim Daerah Lain

Meski pihak pengelola menggaungkan isu konservasi, sanggahan Avo Juhartono menjadi catatan penting bahwa alih fungsi lahan di Palutungan bukan sekadar mengubah “tanah mati” menjadi “tanah hidup”, melainkan mengganti hamparan pertanian produktif warga menjadi kawasan industri pariwisata. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement