JAWA BARAT — Upaya melahirkan bibit-bibit pesepak bola unggul di Tanah Air tidak bisa hanya bergantung pada angan-angan tanpa fasilitas yang memadai. Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, saat menanggapi antusiasme warga Cigadung yang tengah merintis pembangunan lapangan sepak bola.
Dalam kesempatan tersebut, Tina yang pernah menjabat sebagai Direktur Sekolah Sepak Bola (SSB) Pelita Jaya, membagikan pengalamannya saat melakukan studi banding ke klub-klub elit Eropa seperti Ajax, Feyenoord (Belanda), hingga Real Madrid (Spanyol).
- Sempat Terbengkalai, Pemandian Air Panas Ciangir Bakal Disulap Bernuansa Alami, Bupati Targetkan Realisasi Anggaran Perbaikan di 2027
- Ratusan Warga Antusias Ikuti Khitanan Massal dan Cek Kesehatan Gratis IDI Kuningan di Wilayah Perbatasan
- 11 Dokter Spesialis ‘Turun Gunung’ ke Pelosok Cibingbin, Bupati Kuningan Apresiasi Program Jemput Bola IDI
- Kemarau Menggigit Kuningan Timur, Baznas Hadir Beri Bantuan, Warga Rela Antre Air Bersih Hingga Menjelang Magrib
- Dari Reserse Hingga Berantas Narkoba: Menakar Rekam Jejak Kapolres Baru Kuningan AKBP Bellen Anggara
Menurutnya, negara-negara maju memandang sepak bola sebagai karier yang menjanjikan karena didukung penuh oleh infrastruktur di tingkat masyarakat terbawah.
“Di Belanda itu, dalam cakupan satu wilayah setingkat RW saja, mereka bisa memiliki lapangan bola yang sangat bagus, jumlahnya bisa sampai delapan. Mereka dibina sejak usia dini, ditunjang dengan lapangan yang layak, kompetisi rutin, dan pemantauan dari talent scouting,” papar Legislator Gerindra ini.
Merespons dorongan agar dirinya kembali mendirikan SSB guna menyokong pembinaan pemain muda—terlebih untuk menyelaraskan dengan kompetisi seperti Piala Prabowo—Tina menetapkan syarat yang tegas. Ia enggan mendirikan institusi pendidikan bola jika tidak ada komitmen penuh dan konsistensi dari masyarakat setempat.
Bagi Tina, pendidikan sepak bola membutuhkan waktu yang panjang dan tidak bisa berjalan instan. Ia mencontohkan ekosistem di Belanda, di mana anak-anak yang terpilih masuk akademi profesional akan mendapatkan pendampingan menyeluruh. Kehidupan dan pendidikan akademis mereka dijamin, sehingga orang tua merasa aman dan tenang membiarkan anak mereka mengejar karier di lapangan hijau. (Nars)












