KUNINGAN – Gedung Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kuningan mendadak memanas, Rabu (1/4/2026). Ratusan massa aksi menggeruduk markas penegak hukum tersebut guna menagih kepastian skandal dugaan korupsi mega proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) “Kuningan Caang” yang genap berusia satu tahun namun tak kunjung menemui titik terang.
- Progres Penyelesaian TGR Disdikbud Kuningan, Elon: Rp1,07 Miliar Uang Negara Sudah Dikembalikan
- Berbeda dengan Komisi IV, Rana Suparman Blak-blakan Benarkan Ada Dua Versi Angka LHP BPK
- Viral Kecelakaan Kuningan Hari Ini: Mobil Terbalik di Karangkancana, Mantan Camat Jadi Korban
- Kenang Jasa Guru dan Orangtua, Demonstran HMI Kuningan Tak Kuat Tahan Air Mata, Sebut Anggaran Pendidikan Selalu Jadi Bancakan
- Ditanya Transparansi Pengawasan Temuan BPK di Disdikbud, Ini Jawaban Wakil Ketua DPRD Kuningan Ujang Kosasih
Aksi unjuk rasa ini sekaligus menjadi ajang “penyambutan” bagi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kuningan yang baru, Yustina Engelin Kalangit. Massa secara blak-blakan menyindir kepemimpinan Kejari sebelumnya yang dinilai “mandul” dalam memberantas tindak pidana korupsi di wilayah tersebut.
“Jangan sampai Kejari Kuningan jadi kuburan massal kasus-kasus korupsi! Kami minta kejelasan. Ibu Kajari keluar saja atau kita dorong-dorongan dulu? Kalau memang di-SP3-kan, sampaikan secara tertulis. Jangan biarkan kasus ini mangkrak satu tahun tanpa kejelasan,” teriak salah satu orator, Yusup.
Orator tersebut juga memberikan tantangan terbuka kepada Kajari Yustina yang sebelumnya dinilai sukses bertugas di Mukomuko, agar berani membongkar skandal korupsi yang telah menguras miliaran uang rakyat Kuningan ini.
“Kalau tidak mampu, apakah kami harus melaporkan Kejari ini ke Kejagung?” tantangnya.
Loyalis Eks Bupati Geram Tak Terima Almarhum Dikambinghitamkan
Di tengah memanasnya orasi dan desakan massa, sorotan tajam juga datang dari perwakilan Barisan Acep Purnama. Sebagai loyalis almarhum mantan Bupati Kuningan, Haji Acep Purnama, ia meluapkan kekecewaan dan amarahnya atas desas-desus yang menyebut bahwa almarhum dijadikan tameng utama dalam kasus ini.
Dengan nada bergetar menahan emosi, ia menegaskan bahwa mega proyek bernilai ratusan miliar mustahil direkayasa oleh aktor tunggal.”Saya sebagai loyalis almarhum hari ini sangat terluka. Sangat prihatin saya dengar kasus ini seolah tertumpu pada almarhum. Almarhum tidak sendiri! Mungkinkah seorang bupati mengalihkan dana dan memasang lampu sendiri? Ke mana pejabat pelat merah yang kemarin diperiksa?” cecarnya.
Ia memberikan peringatan keras kepada aparat penegak hukum agar tidak menumpahkan segala kesalahan kepada orang yang sudah meninggal dunia demi menutupi keterlibatan pihak lain.
“Jangan sampai karena ada yang meninggal, lalu ditumpukkan kesalahannya ke satu orang tersebut! Saya bantah! Jika kasus ini tidak terang benderang, kami Barisan Acep Purnama yang akan berdiri di sini menuntut keadilan. Jangan sampai aparat penegak hukum tertidur terus dan menjadikan ini ATM berjalan,” tutupnya dengan tegas.
Hingga berita ini diturunkan, massa masih bertahan di depan Gedung Kejari Kuningan dengan pengawalan ketat aparat kepolisian, sembari mendesak Kajari Kuningan yang baru untuk segera menemui mereka dan memberikan kejelasan nasib mega proyek “Kuningan Caang”. (Nars)
























