Advertisement Advertisement
Kuningan Lingkungan Pemerintahan

Ratusan Hektar Hutan Ciremai Dipulihkan Sejak Berdiri BTNGC

KUNINGAN – Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) memberikan bantahan tegas terkait rumor yang beredar di sebagian kalangan masyarakat yang menyebutkan bahwa pihak pengelola kawasan konservasi tersebut tidak pernah melakukan pemulihan kawasan hutan.

Saat dikonfirmasi Kuningan Religi, Kabali TNGC, Toni Anwar melalui Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah 2 TNGC, Halu Oleo, menyebut kabar tersebut sebagai informasi bohong atau hoaks. Ia menegaskan agenda pemulihan ekosistem melalui penanaman pohon terus berjalan secara masif dan terstruktur.

“Kalau menurut saya itu hoaks. Faktanya ada, bahkan sampai saat ini kami terus menanam. Sekarang saja ada lebih dari 100 hektar lahan yang sedang dalam proses pemulihan ekosistem,” tegas Halu Oleo.

Halu Oleo membeberkan, upaya penghijauan tidak berhenti di tahun ini saja. Pihaknya telah menyusun rencana strategis untuk tahun 2026 dengan agenda pemulihan ekosistem dan penanaman secara intensif.

Hal ini dilakukan untuk memastikan tutupan lahan di Gunung Ciremai semakin rapat dan lestari. “Jadi kalau mau melihat buktinya, silakan cek tutupan lahannya saat ini,” tambahnya.

Setahun Memimpin di Tengah Fiskal Terseok, Duet Dian-Tuti Sukses Bikin Ekonomi Kuningan Melesat Tertinggi se-Pulau Jawa

Lebih lanjut, Halu menjelaskan tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir (mindset) masyarakat. Mengingat secara historis, kawasan Ciremai dulunya adalah hutan produksi di bawah Perhutani, yang kini beralih fungsi menjadi hutan konservasi.

Meski demikian, TNGC memastikan pelibatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama melalui tiga pilar pengelolaan: Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan secara lestari.

“Kami terkenal dengan 3P. Dalam perlindungan, masyarakat dilibatkan lewat Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk patroli. Dalam pengawetan, warga dilibatkan mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan,” jelas Halu.

Ia menyebutkan, contoh nyata kolaborasi ini terlihat di kawasan Cipeuteuy Majalengka. Bermitra dengan Koperasi Cipeuteuy, masyarakat setempat proaktif menjaga mata air dan vegetasi.

Halu mencontohkan, ketika ada pohon rawan tumbang yang membahayakan pengunjung, penebangan dilakukan melalui identifikasi ketat dan wajib diganti dengan bibit baru di lokasi yang sama.

Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner‎‎ – Jangan Lewatkan!

Tak hanya soal konservasi, TNGC juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi. Pada tahun 2026, tercatat ada delapan kelompok masyarakat yang akan menerima bantuan usaha ekonomi produktif, mulai dari peralatan pertanian seperti traktor hingga alat evakuasi pendakian.

“Intinya, core kami adalah konservasi. Namun, kami terus berusaha agar kelestarian kawasan terjaga sekaligus masyarakat sekitar bisa mandiri dan berdaya,” tandasnya. (Nars)

× Advertisement
× Advertisement