KUNINGAN – Perjalanan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah kini perlahan melangkah memasuki malam ketiga. Antusiasme umat Islam dalam menghidupkan malam-malam mulia melalui ibadah qiyamul lail, khususnya salat sunah Tarawih berjemaah, diharapkan tidak surut, melainkan terus menyala.
Bukan tanpa alasan, setiap malam di bulan Ramadan menyimpan keistimewaan dan ganjaran (fadhilah) yang berbeda-beda bagi mereka yang ikhlas mendirikan salat Tarawih.
- Perburuan Gelar ISL Makin Panas: Tekuk Bali United 3-2, Borneo FC Samai Poin Persib Bandung
- Gol Indah Mario Peralta Samakan Kedudukan 1-1, Laga Sengit Bali United vs Borneo FC Masih Berlangsung
- Selasa Besok PLN ULP Kuningan Lakukan Pemeliharaan Jaringan di Kuningan Timur, Ini Lokasinya
- Meriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Cirebon, Kuningan Usung Eksotisme Tradisi Kawin Cai
- Kuasai Segiri, Persib Bandung Bungkam Persija 2-1 dan Kokoh di Puncak Klasemen
Khusus pada malam ketiga ini, janji Allah SWT bagi hamba-Nya begitu luar biasa: sebuah “lembaran baru” alias reset spiritual.Dalam literatur Islam klasik yang kerap dikaji di musala dan pesantren, disebutkan sebuah riwayat agung mengenai keutamaan Tarawih di malam ketiga:
“وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ يُنَادِيْ مَلَكٌ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ اِسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ”
Artinya: “Pada malam ketiga, malaikat di bawah Arasy berseru: mulailah melakukan amal kebaikan, maka Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu.”
Seruan malaikat dari bawah Arasy ini memiliki makna filosofis dan teologis yang sangat dalam. Kalimat “mulailah melakukan amal kebaikan” mengisyaratkan bahwa seorang muslim yang mendirikan Tarawih di malam ketiga seolah-olah baru saja dilahirkan kembali tanpa dosa.
Allah SWT menghapuskan tumpukan dosa dan kesalahan di masa lalunya. Dengan jiwa yang kembali bersih, hamba tersebut dipersilakan untuk memulai kembali amal salehnya dari titik nol (start fresh) dengan penuh semangat dan harapan baru.
Ganjaran ini merupakan bentuk kasih sayang (rahman dan rahim) Allah SWT yang melimpah ruah di bulan suci, memberikan kesempatan bagi manusia yang tempatnya salah dan lupa untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Mengingat besarnya anugerah “pemutihan dosa” ini, sangat disayangkan apabila malam ketiga Ramadan dibiarkan berlalu begitu saja karena alasan lelah atau mengantuk. Oleh karena itu, para ulama dan tokoh agama senantiasa mengajak masyarakat untuk merapatkan saf, memakmurkan masjid, musala, maupun langgar di lingkungan masing-masing.
Mari raih panggilan istimewa dari malaikat malam ini. Niatkan langkah kaki menuju tempat ibadah semata-mata untuk meraih rida dan ampunan Sang Maha Pencipta. (Nars)



















