KUNINGAN – Protes menyikapi persoalan lingkungan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang rencananya digelar pada Rabu (10/12/2025), mendapat dukungan moral yang kuat. Aksi gabungan berbagai elemen masyarakat ini dinilai bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan penanda lahirnya kesadaran baru kaum muda Kuningan.
- Drama VAR GBT! Diimbangi Persebaya 2-2, Persib Tetap Kuasai Puncak Klasemen BRI Super League
- Panaskan Duel Persib vs Persebaya, Viking Kuningan Tebar 500 Takjil Jelang Nobar
- Prediksi Big Match Persebaya vs Persib: Ambisi Maung Bandung Jaga Puncak Klasemen
- Dinilai Dapat Tunjangan Ilegal, 50 Anggota DPRD Kuningan Terancam PAW Massal!
- Pasca Kontroversi Soal Ajakan “Tinggalkan Zakat” , Menag Nasruddin Minta Maaf
Sebuah manifesto publik yang beredar menjelang aksi menyoroti kemunculan apa yang disebut sebagai Free Generation atau Generasi Bebas. Kelompok ini didefinisikan sebagai antitesis dari generasi tua (generasi gaek) yang dinilai gagal mengelola panggung sosial-politik akibat kepicikan dan kekolotan berpikir.
“Masa depan Kuningan tidak lagi bertumpu pada generasi gaek, melainkan pada tunas-tunas bangsa yang memandang ke depan dengan keberanian dan optimisme,” ujar Ketua LSM Frontal, Uha Juhana dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).
Narasi yang dibangun menjelang aksi 10 Desember ini membawa pesan filosofis yang tajam. Gerakan ini menolak menjadi pewaris pasif sejarah dan memilih menjadi pencipta masa depan. Mereka mengkritik keras belenggu “esensi”—janji-janji manis tentang keadilan dan kesejahteraan yang sering diucapkan pejabat namun nihil dalam realitas.
”Merdeka berarti bebas dari penindasan, kemiskinan antargenerasi, dan rasa takut yang diproduksi kekuasaan. Besok adalah hari lahirnya generasi yang memutus ilusi dan membangun dunianya dengan rasionalitas,” lanjut Uha dalam pernyataan tersebut.
Gerakan ini menegaskan bahwa Kuningan sedang mencari arah baru, bukan terjebak nostalgia masa lalu. Free Generation digambarkan sebagai kelompok yang berpikir sekuler, dinamis, dan kosmopolitan, serta siap menghadapi tantangan global tanpa harus bergantung pada saran generasi lama yang dianggap usang.
Aksi damai yang akan digelar besok dipandang sebagai momentum “revolusi kesadaran”. Bukan melalui kekerasan fisik, melainkan upaya menghentikan dominasi pola pikir lama yang tidak lagi relevan dengan tantangan zaman, khususnya dalam menjaga kelestarian Gunung Ciremai yang kini mendunia.
“Kuningan tidak hanya untuk Indonesia, tapi untuk dunia. Selamat datang masa depan cerah yang diciptakan oleh keberanian generasi baru,” ujarnya.
Menurut informasi, massa aksi besok akan memusatkan perhatian pada berbagai isu kerusakan lingkungan yang mendera kawasan konservasi Gunung Ciremai, menuntut tindakan konkret dan keberpihakan nyata dari pemangku kebijakan. (Nars)






