KUNINGAN – Di tengah duka akibat kematian massal yang merenggut lebih dari 800 ekor Ikan Dewa di Balong Girang, Cigugur, secercah harapan kini digantungkan pada kolam karantina.
Seratusan ekor lebih, ikan keramat yang tersisa kini tengah “bertaruh nyawa” dalam perawatan intensif, menjadi pertaruhan terakhir untuk menyelamatkan ikon wisata legendaris Kabupaten Kuningan tersebut dari kepunahan lokal.


Anggota Komisi 2 DPRD Kabupaten Kuningan, Sri Laelasari, yang meninjau langsung kondisi di lapangan, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menyelamatkan apa yang masih ada.
- Bupati Dian Sentil Isu Kesejahteraan Budayawan di Hadapan Menteri Kebudayaan
- Dampingi Menteri Kebudayaan di Kuningan, Rokhmat Ardiyan Tekankan Pentingnya Jaga Nilai Sejarah
- Bicara di Depan Pegiat Budaya Kuningan, Fadli Zon: Indonesia Sebagai Super Power Kebudayaan, Siapkan Dana Indonesia Raya
- Napak Tilas ke Kuningan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ungkap Taktik Kejam Belanda Miskinkan Pejuang Nusantara
- Kunker Dua Hari di Kuningan, Menteri Kebudayaan RI Bakal Resmikan Museum Cipari dan Jelajah Situs Sejarah
Melihat kolam utama yang kini sunyi, Sri menggantungkan optimisme pada upaya pemulihan ikan-ikan yang sedang dikarantina agar mampu bertahan melewati masa kritis wabah ini.
“Dengan kondisi ini saya prihatin sekali ya, karena banyak sekali, hampir 70 persen mati. Mudah-mudahan yang sisanya bisa terselamatkan. Kami melihat di sana (kolam karantina), ya memang luar biasa sedih karena itu memang ikon Kuningan,” ujar Sri Laelasari di lokasi Balong Girang Cigugur, Senin (9/2/2026).
Dalam kunjungannya, Sri menyaksikan betapa berat perjuangan di lapangan. Selain fokus pada penyembuhan ikan yang sakit, petugas dan relawan juga kewalahan mengurus bangkai ikan yang terus bertambah.
Ia bahkan mendapat laporan bahwa tim di lapangan mulai kesulitan mencari lahan untuk penguburan bangkai karena jumlah kematian yang begitu masif dalam dua pekan terakhir.


“Kita lagi ngobrol dengan yang di sini, untuk pemakaman ikannya juga kita kesulitan. Karena masih banyak yang matinya di sini, belum terkubur,” ungkap Sri.
Meski situasi tampak sulit, Sri mengapresiasi semangat gotong royong yang muncul. Ia secara khusus berterima kasih kepada sejumlah relawan diantaranya para siswa SMK yang setia menjaga dan mengawasi kolam memastikan sirkulasi oksigen dan pengobatan bagi ikan yang dikarantina tetap berjalan.
“Terima kasih sekali kepada anak-anak sekolah, SMKN 1, yang ikut menjaga di sini,” tuturnya.
Di sisi lain, Kepala Bidang Peternakan Diskanak Kuningan, Drh. Rofiq, menjelaskan bahwa ikan-ikan yang berada di karantina kini mendapatkan perlakuan super intensif. Pihaknya tidak menyerah meski angka kematian sempat menyentuh 80 persen.
Segala metode penyelamatan, mulai dari rekayasa lingkungan hingga medis, dikerahkan demi menjaga “asa terakhir” tersebut tetap hidup.
“Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Segala cara sudah kita upayakan: pengobatan, karantina, kemudian dengan pompanisasi untuk mensuplai oksigen supaya bagus. Mudah-mudahan yang tersisa ini masih bisa kita selamatkan dan bisa berkembang kembali,” terang drh. Rofiq saat dikonfirmasi. (Nars)
























