Insiden Kuningan Lingkungan

Hari Kesebelas Tragedi Kematian Ikan Dewa, Ikon Wisata Kuningan di Balong Girang Nyaris Punah

‎‎KUNINGAN – Fenomena kematian Ikan Dewa di objek wisata Balong Girang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, sudah memasuki fase kritis. Populasi ikan keramat yang menjadi ikon pariwisata daerah khususnya di Balong Girang ini terancam punah setelah dua pekan terakhir mengalami kematian massal yang drastis. ‎

Diperkirakan 80 persen dari total populasi ikan di kolam tersebut telah mati akibat wabah penyakit yang menyerang.

‎‎Memasuki hari kesebelas penanganan darurat, data Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan mencatat lonjakan angka kematian yang signifikan. Sedikitnya 820 ekor ikan dewa atau Kancra Bodas telah dievakuasi dalam kondisi mati.

Tim gabungan kini berpacu dengan waktu mengevakuasi seratusan ekor ikan yang masih hidup ke kolam karantina untuk mendapatkan perawatan intensif.‎‎

Kepala Bidang Peternakan Diskanak Kuningan, drh. Rofiq, menjelaskan pihaknya telah mengerahkan segala upaya maksimal untuk menghentikan laju wabah ini. Langkah medis mulai dari pengobatan hingga rekayasa lingkungan terus dilakukan.

Bupati Dian Sentil Isu Kesejahteraan Budayawan di Hadapan Menteri Kebudayaan

‎‎”Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, segala cara sudah kita upayakan. Pengobatan, karantina, kemudian dengan pompanisasi untuk mensuplai oksigen supaya bagus. Kita juga berusaha pengurasan air supaya kualitas air lebih bagus,” ungkap Rofiq kepada Kuningan Religi di lokasi, Senin (9/2/2026).

‎‎Sebagai solusi taktis jangka pendek untuk memutus mata rantai penyakit, imbuhnya, tim gabungan kini melakukan pengeringan total kolam Balong Girang. Rofiq pun menaruh harapan besar pada upaya terakhir ini.

“Mudah-mudahan besok kematiannya sudah mulai berkurang. Dan mudah-mudahan yang tersisa ini masih bisa kita selamatkan dan bisa berkembang kembali,” ujarmya penuh harap.

‎‎Sementara, berdasarkan hasil pengamatan morfologis yang dilakukan tim ahli, penyebab utama petaka ini adalah serangan parasit ganas jenis cacing Lernaea. Parasit ini membuat ikan tidak nyaman dan melukai diri sendiri.

“Ikan merasa gatal akibat parasit ini, sehingga mereka menggesekkan badannya ke dinding kolam yang menyebabkan luka. Luka tersebut kemudian terinfeksi jamur, yang akhirnya memicu kematian,” jelas Kabid Perikanan, Denny Rianto.‎‎

Dampingi Menteri Kebudayaan di Kuningan, Rokhmat Ardiyan Tekankan Pentingnya Jaga Nilai Sejarah

Masalah semakin pelik dengan terungkapnya fakta buruknya manajemen kualitas air di kolam wisata tersebut. Sistem sirkulasi air dinilai sangat minim dengan desain pembuangan (outlet) yang tidak ideal karena hanya membuang air permukaan.

Akibatnya, air di lapisan bawah yang mengandung endapan zat berbahaya justru terperangkap, menjadi sarang penyakit yang sempurna bagi ikan.‎‎

Kondisi fisik ikan yang melemah juga diperparah oleh kurangnya asupan nutrisi yang memadai. Fakta ini terungkap saat tim melakukan nekropsi atau bedah bangkai.

“Kelihatan sekali ikan sangat kurus. Setelah kami bongkar saluran pencernaannya, ternyata tidak ditemukan makanan apapun alias kosong. Jadi, kombinasi lingkungan buruk, kurang nutrisi, dan cuaca ekstrem membuat daya tahan tubuh ikan menurun drastis,” tambah Denny.‎‎

Situasi darurat ini mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi 2 DPRD Kuningan, Sri Laelasari, saat meninjau langsung ke lokasi. “Dengan kondisi ini saya prihatin sekali ya, karena banyak sekali, hampir 70 persen mati. Mudah-mudahan yang sisanya bisa terselamatkan,” ujar Sri dengan nada sedih.

Bicara di Depan Pegiat Budaya Kuningan, Fadli Zon: Indonesia Sebagai Super Power Kebudayaan, Siapkan Dana Indonesia Raya

‎Ia mendukung penuh langkah Diskanak dan berharap sisa populasi ikan legendaris tersebut dapat diselamatkan agar daya tarik wisata Balong Girang bisa bangkit kembali. (Nars)‎‎

× Advertisement
× Advertisement