Advertisement Advertisement
Artikel Ekonomi Bisnis Kuningan Pertanian Ragam

‎Menelisik Potensi Emas Hitam di Tengah Menjamurnya Kedai Kopi Seduh di Kuningan‎‎

KUNINGAN – Geliat industri kopi di Kabupaten Kuningan terus menunjukkan tren positif. Pengusaha kopi sekaligus pemilik Kedai Kopi Jambu Mas yang berlokasi di Jalan Siliwangi, Eka Nugraha, membedah peta potensi “emas hitam” di Kabupaten Kuningan ini.‎‎

Menurut Eka, secara umum terdapat empat jenis kopi yang dikenal, yakni Robusta, Arabica, Excelsa, dan Liberika. Namun, khusus di Kabupaten Kuningan, varian Robusta memegang dominasi mutlak dalam peta perkebunan rakyat.‎‎

“Untuk Kuningan sendiri khususnya, hampir 80 persen pohon kopi yang ada itu jenisnya Robusta,” ungkap Eka Nugraha saat diwawancarai Selasa (3/2/2016).

‎‎Eka menjelaskan, sejarah penyebaran kopi di Kuningan cukup merata. Berdasarkan data historis yang diketahuinya, hampir seluruh wilayah di Kuningan memiliki tanaman kopi, kecuali Kecamatan Cidahu. Hal ini menjadikan Robusta sebagai kopi yang paling mudah didapat dan sudah memasyarakat di kalangan warga Kuningan.

Beda Segmen, Beda Rasa

Meski Robusta mendominasi lahan, Eka menuturkan bahwa tren di kedai kopi (coffee shop) modern justru lebih banyak menyerap jenis Arabica. Hal ini dikarenakan Arabica memiliki karakteristik rasa yang lebih kompleks dan bermacam-macam dibandingkan Robusta.‎‎

Setahun Memimpin di Tengah Fiskal Terseok, Duet Dian-Tuti Sukses Bikin Ekonomi Kuningan Melesat Tertinggi se-Pulau Jawa

“Karakteristik umum di Indonesia yang dipakai dua itu (Arabica dan Robusta). Tapi sekarang mulai nambah lagi Liberika yang mulai banyak petani coba budidayakan,” jelasnya.‎‎

Sementara itu, untuk konsumsi masyarakat umum yang terbiasa dengan kopi hitam atau kopi saset, mayoritas yang dikonsumsi adalah jenis Robusta. Di kedai Jambu Mas miliknya sendiri, Eka menggunakan teknik blend atau pencampuran antara Arabica dan Robusta untuk mendapatkan cita rasa yang pas.‎‎

Identitas “Java Buana Ciremai”‎‎

Terkait identitas kopi lokal, Eka mengakui belum ditemukan indukan yang benar-benar asli atau endemik Kuningan. Namun, dalam lima tahun terakhir, para pegiat kopi mulai mempopulerkan identitas geografis baru.‎‎

“Para pegiat kopi di Kuningan sudah mulai (mengenalkan) kopi yang dinamai Buana Ciremai atau Java Buana Ciremai. Itu indikasi geografis yang meliputi wilayah Gunung Ciremai, baik Kuningan maupun Majalengka,” paparnya.‎‎

Edukasi Teknik Seduh‎‎

Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner‎‎ – Jangan Lewatkan!

Dalam kesempatan tersebut, Eka juga berbagi wawasan mengenai teknik penyeduhan. Secara garis besar, metode seduh dibagi menjadi dua: Manual Brewing (tanpa mesin) dan Espresso Base.‎‎

Uniknya, metode tubruk yang dianggap paling tradisional justru memegang peranan vital bagi seorang barista.

Eka menjelaskan bahwa metode tubruk digunakan untuk cupping atau uji cita rasa guna mengetahui kadar asam hingga tingkat kepahitan (bitter) sebuah biji kopi sebelum disajikan kepada pelanggan.

‎‎”Biasanya sebelum menyeduh, kita cupping dulu pakai metode tubruk buat menguji cita rasa. Baru setelah dapat datanya, kita tentukan metode seduh yang cocok, misalnya pakai alat V60,” jelas pria yang akrab disapa Ekoy ini. (Nars)

Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong

× Advertisement
× Advertisement