KUNINGAN – Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, memberikan atensi serius kepada seluruh kepala daerah di Jawa Barat terkait potensi lonjakan inflasi menjelang momen krusial bulan suci Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Hal ini ditegaskannya saat membuka acara “Pasamoan Agung” atau High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Jawa Barat di Taman Kota Kuningan, Kamis (5/2/2026).
- Setahun Memimpin di Tengah Fiskal Terseok, Duet Dian-Tuti Sukses Bikin Ekonomi Kuningan Melesat Tertinggi se-Pulau Jawa
- Tahun Baru Imlek 2026, The Icon dan Embun Sang’ga Langit Hadirkan Atraksi Barongsai dan Diskon Kamar dan Kuliner – Jangan Lewatkan!
- Musim Hujan, Warga Cikondang “Menabung Air” Lewat Revitalisasi Blok Cirangkong
- Pererat Silaturahmi Jelang Ramadan, Koramil 1501 Kuningan Gelar Munggahan Bersama Anggota DPRD
- Ironi Kemegahan Waduk Darma: Wisata Mendunia, Masih Ada Desa “Miskin Ekstrem”
Dalam arahannya, Erwan meminta bupati dan wali kota untuk tidak lengah dan terus memperkuat sinergi guna menjaga stabilitas harga pangan. Terlebih, periode krusial ini juga beriringan dengan perayaan Cap Go Meh yang turut memengaruhi permintaan pasar.
“Saya harap ada atensi dan keseriusan dari para kepala daerah untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan pangan menjelang Cap Go Meh, Ramadan, dan Idulfitri tahun 2026 ini,” tegas Erwan di hadapan para kepala daerah se-Jabar.
Waspada Cuaca Ekstrem dan Gangguan Logistik
Erwan menyoroti tantangan cuaca yang tidak menentu sebagai faktor risiko yang harus diantisipasi sejak dini. Ia menginstruksikan jajarannya untuk memperkuat koordinasi dengan BMKG dan BPBD guna memitigasi gangguan distribusi logistik.
“Saat ini cuaca sedang sangat tidak menentu. Kadang tiga hari tidak ada hujan, kadang selama satu minggu tidak berhenti hujan. Ini harus betul-betul diantisipasi, jangan sampai nanti terkendala masalah pasokan dengan alasan cuaca,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS Januari 2026, Jawa Barat mencatatkan deflasi bulanan sebesar 0,09 persen berkat turunnya harga komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan daging ayam ras. Namun, Erwan mengingatkan bahwa secara tahunan (year-on-year), inflasi Jabar masih berada di angka 3,24 persen, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, tomat, hingga beras.
Oleh karena itu, ia menekankan enam langkah strategis yang harus dilakukan TPID. Salah satu poin utamanya adalah pemantauan harga berbasis data real-time.
”Saya yakin di 27 kota kabupaten di Jawa Barat ini semua sudah mempunyai data real-time. Tolong betul-betul dimaksimalkan, dipantau terus. Jangan sampai kita kecolongan. Ada satu daerah bagus terjaga, tapi ada satu daerah lain inflasinya tinggi,” ingatnya.
Erwan juga menyinggung kesiapan infrastruktur wilayah utara Jabar yang sudah ditunjang Tol Cipali, Cisumdawu, serta Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati, seharusnya memudahkan akses distribusi pangan dibandingkan wilayah selatan yang saat ini masih dalam proses percepatan pembangunan Tol Cigatas.
Selain pengendalian harga, Erwan juga mendorong percepatan digitalisasi melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD). Ia menekankan pentingnya penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI) dalam belanja pemerintah daerah untuk meningkatkan transparansi.
“Digitalisasi transaksi keuangan daerah terbukti mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas,” kata Wagub Erwan. (Nars)


